Mbah Lim, Om Cook dan Nuni
October 17, 2006 by indo-javanesegirl
DARI BLOG SEORANG SAHABATJ
Gara-gara Nuni nih, gue sekarang agak sedikit “repot” menanggapi desakan kawan-kawan gue yang cewek di kantor untuk ikut sarannya mengikuti pengajian para mu’alaf warga negara asing (AKA Bule). Gue rada sedikit geli juga melihat reaksi temen-temen, kenapa jadi mendadak dangdut gini…eh, mendadak serius begitu. Gue sendiri, memahami keinginan baik sobat gue itu (si Nunce). Terutama melihat kejombloan gue yang membuatnya khawatir. Tapi itu juga yang kemudian bikin gue ragu akan niat selanjutnya untuk ikut pengajian itu, yang akhirnya sekarang gue biarkan menggantung dan tidak ada minat sama sekali untuk ke
sana .
Namun sekarang yang semangat justru temen-temen gue di kantor. Menurut mereka pengajian itu pasti menarik sekali, bukan karena akan banyak bulenya, tetapi juga pasti akan memberikan suatu paradigma baru tentang Islam. Lebih dari itu, itung-itung bisa praktek bahasa Inggris dan bisa jadi kalau beruntung ada bonus tambahan : Kali-kali aja ada yang nyantol di hati begitu……. (Dasarrr!!!). Kalau untuk becandaan sih, memang akhirnya pembicaraan soal ini jadi seru dan lucu banget.
Tapi yang jelas, gue sendiri udah enggak begitu minat. Gue hanya jadi meragukan niat hati gue. Makanya gue pikir, yah gue tunda dulu aja sampai gue menetralkan kembali ketulusan hati untuk ikut usulannya Nuni. Maaf yah, Nun. Kayaknya aku enggak akan ke
sana .
Nuni ini temen baik gue waktu kita sama-sama jadi ”wartawan ndeso” di Solo. Saat Orba masih kenceng-kencengnya melorotin petani kecil di
sana . Saat masyarakat masih susah untuk membela dirinya sendiri. Saat di mana jika ingin menjadi Kepala Desa maka harus di secreening dulu leluhurnya apakah bersih dari partai-partai terlarang. Saat-saat itu antara gue dan Nuni kemudian mempunyai ikatan baik tentang berbagai persoalan yang ada di sana. Baik kerja juga pribadi. Gue sama dia kadang liputan barengan meskipun desk-nya beda.
Yang paling berkesan mungkin, dan masih gue inget, saat kita harus masuk ke pelosok Klaten (ah lupa nama daerahnya). Kita ke pesantren yang katanya Kyai-nya itu adalah guru besarnya Gus Dur. Waktu itu yang mau gue kejar wawancara adalah Gus Mus (Mustofa Bisri). Begitu denger dia ada di sana, enggak gue sia-siain. Karena sebenernya gue “nge- fans” banget sama karya-karya puisinya. Wawancara gue yah soal masalah resesi ekonomi yang membuat sebagian masyarakat kita waktu itu luluh lantah. Nah Gus Mus itu ada di pesantren Mbah…Mbah….entahlah Kyai siapa begitu yang jadi gurunya Gus Dur itu.
Kata orang, Kyai itu agak aneh. Kalau bicara enggak ada satu pun yang mengerti kecuali para santrinya. Karena lidah dan bibirnya rada pelo. Gue pikir dia pernah stroke barangkali. Jadi, kalau dia berbicara selalu ada santrinya yang menterjemahkan. Tapi anehnya, kalau lagi jadi imam sholat, bacaannya bagus banget. Jelas dan fasih. Waktu kita jalan hingga nyaris 1 km di tengah udara pagi yang nyaris meninggi, kita di antar santrinya ke ruang yang memang sudah dipenuhi orang banyak karena memang ada pesta di sana (entah pesta apa yah waktu itu). Tapi namanya juga lingkungan pesantren, jadi suasananya kayak ke pengajian aja. Waktu kepala kita nongol di pintu, si mbah….Oh iya namanya Mbah Lim (entah siapa nama lengkapnya). Si Kyai yang biasa di panggil Mbah Lim ini langsung terlonjak gembira. Padahal dia ada di kursi roda. Wajahnya ramah luar biasa, pipinya kempot karena giginya udah ompong.
”Cah wedok ayu, kemai-kemai…” Gue sama Nuni waktu itu jadi nyengir kuda. Rada kikuk, karena semua yang hadir jadi tertuju ke kita. Gue sendiri cuma mau ke Gus Mus aja bukan ke Mbah Lim, yang begitu semangat menyodorkan tangannya untuk kita cium tangannya. Dia senang banget liat kita berdua, dan tatapan matanya begitu welas asih.
Gue dan Gus Mus kemudian wawancara dekat pintu keluar. Cukup panjang wawancaranya (bahkan bukan wawancara kali, tapi ngobrol), hingga gue bertanya, gimana sih harusnya kita ngatasin masalah yang berat kayak gini. Terutama untuk kalangan wong cilik. Gus Mus hanya singkat menjawab : Kembalilah kepada Allah. Hanya kepada-Nya tempat kita kembali dan berbakti. Wah…jawaban Kyai emang lain. Tapi gue bilang, rakyat yang lagi sengsara gini kan enggak mungkin hanya diminta berdoa dan kembali kepada Allah. Karena realitanya secara ekonomi mereka sudah luluh lantah.
Gus Mus senyum menerawang waktu itu. “Kalau kamu yakin, kenapa mesti ragu. Kembali ke Allah, maka segala sesuatunya akan mudah seperti membalikkan telapak tangan.” Entah kenapa waktu itu, gue yakin banget, jawaban itu kayaknya bukan untuk menjawab pertanyaan gue, tapi itu pernyataan yang ditujukannya kepada gue. Karena beberapa saat gue lihat tatapan mata Gus Mus seperti berkata, ”Masalahnya kamu percaya atau enggak.”
Lalu gue mencoba memberikan argumen, ”Tapi Gus…..”, belum selesai tuh, tiba-tiba, si Mbah Lim merepet. Entah dia berbicara apa. Dia seperti mencak-mencak dan marah. Tapi karena tampangnya yang ”lucu” membuat gue dan Nuni bingung. ”Si Mbah itu kenapa Fay..” Gw Cuma menggeleng. Kita semua diam. Gue liat orang-orang menegang. Tiba-tiba Mbah Lim menuding-nuding kita berdua dengan telunjuknya.
”Hanya Kepada Allah tempat kita kembali. Kamu harus percaya itu. Masalahnya kamu percaya atau tidak dengan Allah” semprotnya ke kita berdua, diterjemahkan oleh santrinya yang panik. Aku dan Nuni terdiam. Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sarungnya. Gue sama Nunik nyaris terlonjak. Tapi ternyata di dalam sarungnya ada semacam selang. Dia bilang, dia sekarang ini sedang sakit, selang itu membantunya bisa buang air kecil. Dia bilang, jika Allah menghendaki dia akan mati cepat. Tapi Allah menghendaki lain. Dia malah membuatnya pulih sehingga bisa mengajar santrinya lagi. Dia tetap bersyukur karena dia sangat yakin dengan Allah SWT. ”Sampeyan harus percaya kekuatan Allah itu ada!” ujarnya berdenging tidak jelas, namun jadi jelas karena diterjemahkan santrinya.
Kemudian si Mbah meminta secarik kertas dari santrinya dan dia menulis sesuatu di sana. Kemudian meminta santrinya menyerahkannya ke gue. Tulisan itu intinya yah, bahwa semua kejadian ini adalah ulah para konglomerat keparat………(gw lupa lagi isi lebihnya). Lalu ditambahkan : Tidak ada tempat kembali kecuali kepada Allah SWT, lalu ada takbir. Tertanda Mbah Lim. Dan tiba-tiba Mbah Lim mengusir kita berdua. ”Sekarang Mulih, mulih, mulih!!!” Wah, gue sama Nuni panik. Santrinya meminta kita cepat pergi.
Wah, kita berdua shock banget digituin. Perubahan sikap Mbah Lim ini drastis sekali. Tapi gue sama Nuni bener-bener shock dan bingung. Beberapa santrinya di luar menanyakan apakah gue udah selesai wawancara. Gue iyain, tapi gue ceritain juga kejadian tadi. Eh…..santrinya malah berkomentar begini. ”Hemmm….jam berapa sekarang?” Kita melongok. Nuni melihat jamnya, dan bilang mau jam 12. ”Wah, kamu dapat berkah. Karena enggak biasanya Mbah Lim marah jam segini. Enggak usah dipikiran mbak. Dimarahin Mbah Lim seperti itu bahkan siang-siang jelang zuhur gini, itu berkah. Biasanya yang dimarahi siang hari saat matahari meninggi begini itu artinya akan membuat mental mbak kuat.” Katanya. Orang yang anehh…
Gue sama Nuni jadi melongok. Tapi sepanjang jalan gue malah nangis sampe sesungukkan. Bukan karena diusir. Tapi gue merasa kenapa pernyataan itu seperti ditujukannya ke gue yah. Apa gue punya keraguan dengan Tuhan gue sendiri. Entahlah….tapi itu membuat gue sedih luar biasa. Itu paling berkesan banget dan gue inget terus sampai sekarang kalau gw mengingat hari itu dengan Nuni. Entah Nuni inget gak yah.
Lama enggak ketemu Nuni, dia tiba-tiba menyapa di YM gw. Kini dia telah menikah dengan bule yang tinggal di Australia. Nuni sendiri ikut suaminya di sana. Sekarang mereka tinggal di rumah baru di Melbourne dan tengah menantikan lahirnya anak pertama mereka. Setelah lepas kangen, tanya kabar sana kabar sini, tiba-tiba dia membicarakan adanya pengajian mualaf orang asing di Jakarta. Gue awalnya enggak engeh juga. Ora dong, begitu wong Yogya bilang. Apa sih maksudnya, dari tanya soal kabar, kegiatan, hari-hari, dia tiba-tiba memberikan informasi itu. Kemudian gue jadi paham maksudnya. Dia bilang, coba aja. Karena katanya, banyak yang tanya ke dia gimana dapetin suami bule yang baik kayak suaminya dan Islam pula. Katanya lagi, siapa tau, dengan ikut pengajian itu, selain tambah ilmu, tambah wawasan dan juga tambah temen, tiba-tiba muncul soulmate gue di
sana .
Gue sampai tergelak, membuat temen-temen gue penasaran dan akhirnya mereka tahu semua. Nuni pun memberikan sebuah nomor HP orang yang mengurus pengajian itu namanya Steve Cook. Gue sama temen-temen kantor menyebutnya kemudian sebagai “Om Cook” (padahal belum ketemu orangnya). Tadinya emang gue semangat terbawa suasana semangatnya temen-temen, tapi lama-lama enggak lagi. Gue emang akhirnya menelepon Om Cook. Dia bilang pengajiannya hari Rabu dan bukan Kamis seperti yang dibilang Nuni. Pengajiannya adalah pengkajian Al-Qur’an dan Hadist, lalu membahas dan mendialogkannya secara bersama lalu didiskusikan. Kelihatannya menarik. Tapi enggak lama, si Cook SMS bahwa pengajiannya adalah Kamis bukan Rabu. Itulah, bikin bingung. Sebenernya Rabu atau Kamis sih?! Sampai sekarang gue belum mutusin ikut atau enggak. Sudah tidak berselera lagi. Sementara temen-temen gue menanti untuk bisa menelpon Cook lagi dan memastikan hari apa sebenernya pengajian itu. Auk ah gelaaappp.
Daripada mikirin itu, gue sendiri udah sibuk mempersiapkan diri untuk 10 hari terakhir Ramadhan ini. Sementara ini gue ngebut ngerjain semua deadline sehingga bisa punya waktu lebih banyak untuk fokus dan menyiapkan diri di hari-hari terakhir Ramadhan ini. Idealnya gue harusnya cuti. Tapi jelas, enggak dibolehin, karena kerjaan emang lagi banyak-banyaknya dan semua dikejer deadline. Aduuh, Allah maafkan aku yah…..
Meski enggak bisa terawehan jamaah, tapi gue mengejarnya di malam-malam di mana orang mungkin udah pada kecapean bergerak. Dan gue sendiri emang kecapean. Tapi malam Ramadhan itu kesyahduannya selalu berbeda dengan malam di bulan-bulan lain. Jadi enggak akan gue sia-siain. Meski akhirnya alhasil, setiap kerja di kantor gue selalu mengantuuuuuuk luar biasa. Kadang kepala sudah tertelungkup di meja dan gue mulai tidur. Ntar, bos atau temen gue ngagetin sehingga gue bangun lagi. Payah banget gue ini, hik,hik,hik….
NOTE: AYO MAJU TERUS PANTANG MUNDUR SAY! GUE MASIH INGET KOK SEMUA PETUALANGAN ITU, WALAU ENGGA SEMENDETAIL ITU, SALAM NUNIJ
2 Responses to “Mbah Lim, Om Cook dan Nuni”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Temennya lucu banget seh say…
Ha ha ha…begitulah watak dan sepak terjang sahabat gue yg gue kenal sejak dulu. Namanya Andi Farah (ortunya sih org Makasar, tapi dia sama spt gue lahir dan besar di Jkt). Fay ini memang cuek abis, agak tomboy tapi asyik buat temenan (pokoknya sifat kita beda gue agak narcis, suka gaul, cewek banget kata dia, tapi justru slg melengkapi. Fay ini juga yg jadi a shoulder to cry on waktu gue broken heart abis ama sang arjuna mas guanteng Jawa yg wong Yogyo itu he he he…Makanya gue suka kangen mau curhat sama dia spt dulu lagi. Good luck 4 U Fay. Met Lebaran utk semua teman di FS:)