Our Climate Changing
October 30, 2006 by indo-javanesegirl
Hmmm Thank God akhirnya minggu ini kami yang tinggal di
Melbourne bisa merasakan cuaca yang lebih stabil dan menyenangkan. Menurut ramalan cuaca dari the weather man (presenter ramalan cuaca yang sering ditayangkan di berbagai saluran TV sini) kondisi cuaca untuk pekan ini lumayan asyik rata-2 temperatur udara antara 20 derajat sampai 27 derajat Celsius.
Akhirnya untuk sementara di musim transisi ini antara winter ke summer atawa spring yang seharusnya lebih sering hujan tapi temperatur udara tidak drop atau naik sekali kita bisa sedikit lega dan menarik nafas dalam-dalam sambil menikmati cuaca yang diberikan-Nya. Sebelumnya sejak September sampai Oktober ini cuaca benar-benar engga menentu. Ibaratnya mood seorang perempuan (apalagi yang sedang kena PMS) cuaca berganti seenaknya.
Kata the weather man pagi ini
Melbourne bakal cerah dan sunny day sepanjang hari, eh engga tahunya malah berawan kadang frog (kabut juga ikutan turun) dan syukur-syukur temperatur udara engga drop pula. Kalau sudah begini engga hanya harus siap-siap kostum (yang tepat) biar engga salah kostum, tetapi juga harus menjaga kondisi badan agar tetap prima di kondisi udara yang sangat tidak menentu itu. Sering di sini paginya panas terik, tahu-tahu sore dan malamnya turun hujan, kadang sampai hail (batu es sebesar kelereng) ikutan turun yang bikin genteng rumah pada rusak dan berisik kayak pepatah bule yang bilang seperti anjing dan kucing sedang bekejaran (saking berisiknya tuh ujan).
Bahkan kalau tubuh enggak fit ya udah gampang banget deh kena penyakit musiman seperti flu, batuk-batuk dkk nya. Seperti yang baru aja dialami suami. Karena musim semi ini ujan mulai turun (meski enggak banyak) dia semangat banget nanem ini itu di kebun belakang, enggak peduli sama kondisi badan yang mungkin ada batasnya plus kebiasaan merokok yang masih terus dilakoni. Hasilnya? Kali karena kecapaian plus cuaca yang engga jelas plus rokok (kombinasi yang bagus ya) dia pun drop, tiba-tiba badannya demam, batuk-batuk dan pilek. Yah…udah deh gejala sakit datang.
Bener adanya, suami kena virus yang bikin dia flu. Dan sekarang (tiga hari kemudian) virus itu udah pindah ke badanku. Padahal aku udah siap dengan segala obat penangkal seperti minum vitamin (apa aja plus C) juga minum ramuan tradisional seperti lemon dan jeruk nipis plus kecap, tuh virus emang bandel masih aja demen nyerang nih badan. Mungkin karena tiap hari berdekatan sama hubby ya jadi virus itu gampang pindah. Abis mau berjauhan susah deh kayaknya (seperti saran adikku BC) supayan untuk sementara jauhan dulu sama suami. Lha wong tidur seranjang, terus setiap malam sebelom bobo atau pagi mau berangkat ke kantor hubby pasti mencium bininya. Padahal aku udah menghindar, yah namanya kebiasaan mau gimana dong. Waktu kita ke dokter akhirnya cuma dikasih obat antibiotik. Yah lumayan lah radang di tenggorokan jadi agak lumayan (berangsur-angsur ilang).
Iklim yang tidak menentu ini konon kata banyak ahli karena efek dari global warming (pemanasan dunia). Ozon yang harusnya melindungi lapisan udara di bumi udah bocor alias berlubang, sehingga sengatan panasnya sinar matahari langsung menghujam bumi. Akibatnya di beberapa tempat seperti Kutub Utara dan Selatan saljunya pun mulai banyak yang mencair, ekosistem pun berubah pelan-pelan (evolusi) mungkin bakal menjadi revolusi kalau kondisi seperti ini terus menerus dibiarkan.
Di Australia sini dampak global warming mulai terasa. Selain cuaca yang berubah-ubah tak menentu sak enake dewe (kata orang Jawa) juga hujan yang mulai jarang turun. Yang kasihan para petani, panen mereka engga sukses seperti biasanya. Lagi-lagi efek domino, harga kebutuhan pokok (pangan) pelan-pelan merayap, apalagi dari produk pertanian dan peternakan. Mau impor dari Indo atau negara lain? Pemerintah sini sangat ketat dengan standar kualitas dan tetek bengeknya. Yah akhirnya imbauan pun di mana-mana diinformasikan, agar menggunakan air dan sumber energi lainnya (listrik/gas) sebijaksana mungkin (seperlunya). “Air bukan warisan nenek moyang kita, berikan kesempatan untuk generasi berikutnya,” demikian slogan dari pemerintah yang saban hari ditayangkan TV sini. Belum lagi karena mau pemilihan kepala negara bagian (state), para calon kandidat mulai merayu penduduk dengan program-2 kampanyenya yang cukup menggiurkan.
Kedua kandidat dari partai yang berseberangan sedang giat mengkampanyekan peningkatan kualitas lingkungan hidup di
Australia (termasuk membangun dam-dam/bendungan) berikut kincir angin raksasa yang konon untuk menciptakan sumber daya energi alternatif yang ramah lingkungan. Tapi lagi-lagi bakal ada dampaknya, konon pembangunan mega proyek kincir angin di beberapa wilayah (country) ini akan menimbulkan kerusakan lingkungan seperti punahnya jenis burung tertentu dan kebisingan untuk masyarakat sekitar.
Sepertinya yang bisa dilakukan masyarakat sekarang memang mencoba hidup lebih efisien, bijaksana dan ramah pada lingkungan. Katanya kalau bisa sih setiap keluarga punya water recycling tetapi ini biayanya lumayan mahal. Karena untuk membangun instalasinya pun butuh alat-alat yang tidak murah. Tapi hasilnya memang lumayan untuk mempertahankan kehidupan di bumi ini tetap sentosa demi anak cucu mendatang.
Melbourne Oct 06
3 Responses to “Our Climate Changing”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
mba… kalo climate melbourne changing. di indo lagi stagnant cenderung kepanjangan, musim panas yang terus2an campur debu and panas. saya baru balik dari kampung and udah 8 bulan ga hujan. panas, debu dan yang pasti kering pak tani ga bisa2 ngapa2in. deeee semangat!!!
Disini malah cuaca drop banget, mana anginnya kenceng. Bete deh!!!
Buat semua temen-2, baik yg ada di Indo Shinta (yg lagi ngerasain kemarau) di US Julie (yg lagi bete sama winter n kedinginan) semoga tetep sehat-2 aja ya, jaga badan tetep fit, soale kesehatan itu mahal harganya! Kalo ga percaya, tanya aja sama dokter sebelah he he he…
Salam,
Nuni