Si Bocah Doyan Berteman
October 17, 2006 by indo-javanesegirl
Hai hai hai…Blog apa kabar? Lagi demen nulis lagi nih, abis banyak yang mau diceritain, engga papa ya, engga bosen
kan ? Daripada nanti lupa, lagian nih jari jemari udah gatel tuh, bawaannya mau nulis aja (alesan) he he he!
Selama hamil ini engga tahu kenapa aku jadi rajin deh bergaul (bersosialisasi maksudnya). Dan kebetulan ada aja yang ngajakin berteman, berdiskusi, beribadah dll yang dulu-dulu sih juga banyak ajakan seperti itu, namun apa daya si rolly polly (sebutan sayang hubby untuk bininya krn sekarang bentuk badannya seperti gulungan kertas yang beredar ke mana-mana) saat itu masih sibuk sekolah dll, terpaksa menampik ajakan bersosialisasi seperti itu. Ini mungkin yang namanya hamil membawa berkah ya!
Wah…ternyata asyik juga tuh kalau kita punya teman banyak dan kegiatan yang berbeda-beda. Bukan sebatas teman yang enak diajak jalan-jalan, hura-hura dan ngomongin tentang trend terbaru (baju, tas, sepatu dan bawaan lainnya) yang serba bermerek itu. Kebetulan teman-teman yang ngajak gaul kali ini udah pada matang alias dewasa, jadi sorry aja ya yang kayak gitu mendingan lewat deh, hari gini gitu loh, masak berteman cuma sebatas di ‘permukaan’, garing banget kata anak zaman sekarang!
Bersamaan dengan Ramadhan, rolly polly jadi sering dapat undangan buka puasa dari beberapa komunitas moslem yang ada di Melbourne.
Ada kelompok interfaith (dialog antar agama), kelompok migran dari negara-negara moslem di Asia dan Timur Tengah serta tentunya undangan buka puasa dari negeri sendiri dong. Yang terakhir ini malah cukup penting karena selain berbuka kita juga membicarakan misi mulia. Komunitas moslem Indonesia di Melbourne bercita-cita ingin mendirikan Islamic Centre demi syiarnya agama Islam di negeri empat musim ini. Mudah-2 an usaha teman-teman tersebut segera terealisasi ya. Kita sih cuma bisa bantu doa dan sedikit bantuan dana yang kita mampu.
Buka puasa Sabtu kemaren di Konjen juga jadi ajang yang asyik untuk bersilaturahmi dengan seluruh warga moslem Indo di Melbourne. Rolly jadi mengenal teman-teman baru senasib (yang juga nyangkut ke sini karena suami, ihik ihik). Bahkan ada yang mengajak untuk gabung dalam kelompok pengajian ibu-ibu seperti yang biasa ada di Indo, yakni dari rumah ke rumah. Walah…jauh-jauh ke sini gitu loh, eh masih bisa ngumpul and arisan lagi dasar ibu-ibu! Eit asal jangan kebanyakan ngerumpinya kali ya! Tapi engga papa deh karena salah satu yang ngajak gabung kebetulan seorang figur perempuan yang aku kagumi sejak dulu yakni ibu Leila Budiman (psikolog Kompas Minggu).
Wah kayaknya asyik deh berteman sama ibu satu ini, waktu kenal kali pertama aja aku udah merasa sreg, comfort. Dia begitu keibuan, serasa seperti ibu sendiri. Apalagi anak-anak Bu Lei juga sedang jauh dari orangtuanya, karena mereka sedang melanjutkan studi di negeri Paman Bush. Yah ada untungnya juga kok bergaul sama ibu-ibu yang pantas jadi ibu kita itu, kita jadi seperti anak-anak lagi, dilindungi dll. Malah kalau nanti melahirkan mau ditengok segala, wah si dede memang hebring euy…banyak fans-nya, sepertinya dia suka banget kalau mummy-nya bergaul (berteman dengan siapa aja).
Blog, mulai minggu ini aku juga ikutan workshop loh. Yang ngadain kelompok Indonesian Women’s Leadership Group. Workshop ini membahas tema-tema menarik seperti Conflict Resolution Skills, Improving Mental & Wellbeing into Community, Women Health, Family Violence, Migration, Australia Culture, Financial Problems dll sampai Desember nanti. Asyiknya workshop ini gratis blog, cuma sebelum gabung kita harus isi formulir dan tes wawancara.
Tujuan workshop selain untuk mendidik para perempuan (terutama migran) di negeri baru itu juga nanti bisa dimanfaatkan sebagai modal menjadi tenaga penyuluh bagi para migran yang baru dateng. Yah…jadi inget program jadoel Dari Desa Ke Desa (di TVRI) kuno banget yak! Ha ha ha…Yah kira-kira seperti itulah, kita bisa jadi tenaga penyuluh untuk membantu para migran beradaptasi dan settle di negeri baru. Inget loh, ini kerja volunteer jadi gratis alias engga dibayar. Tapi aku seneng kok blog ngelakoninya, anggap aja ibadah lah yaw…dan yang penting itu tadi seperti semboyan seorang teman lamaku, banyak temen banyak rejeki (eh salah yah).
Oh ya blog di workshop ini lagi-lagi ketemu sama Bu Lei, kata dia, “Kirain kamu engga mau ikut, abis
kan lagi hamil.” Yah bu, saya malah semangat tuh, lagian beraktivitas kayak gini malah sehat
kan . “Hmmm bener juga yah. Iya lah kita harus aktif walau jadi perantau pun.” SETUJU!
Eh blog di workshop itu aku juga kenal seorang ibu berumur sama dengan ibuku yang menceritakan anak perempuan semata wayangnya. Kata ibu yang sudah menjanda ini, anaknya yang berkarier bagus itu (dosen, peneliti, aktivis) di sebuah perguruan tinggi terkenal di Melbourne –kebetulan seumur denganku –dengan tegas mengatakan OGAH PUNYA ANAK.
Awalnya ibu itu kaget mendengar pengakuan anaknya. “Saya masih ingat waktu dia bilang ke saya, mah jangan kaget yah aku enggak mau punya anak.” Namun ibu yang bijak itu lambat laun mau menerima keputusan anaknya tersebut. “Yah mau apa lagi kalau itu udah pilihannya, saya enggak bisa memaksa lagi. Kebetulan suami (bule-nya) juga mendukungya, meski keluarga suaminya sempat bertanya-tanya. Saya malah sedih ketika anak saya itu bilang, dulu kenapa mamah cuma punya satu anak?” Waduh…berabe deh kalo udah gitu…
Yeah blog…rambut sama hitam ternyata belum tentu sama jenisnya. Jadi lain orang emang lain pemikirannya….whatever lah yaw…Cuma aku sempat menangkap seraut wajah sedih dari si ibu ketika menceritakan soal si anak tersebut. Walau dia terlihat bangga dengan sukses karier si anak, namun jauh di lubuk hatinya dia merasa kesepian, mungkin kesepian mendengar tangis dan tawa anak-anak kecil yang biasa diimpikan seorang nenek!
Dan aku makin bergetar manakala seorang ibu yang lain berkomentar spontan atas cerita tadi. “Bilang ke anakmu, punya anak itu indah loh, kita menjadi lebih hidup dan bla bla bla..rugi deh kalo sampe engga….Meski aku juga tak bisa menyalahkan alasan sang anak yang tak mau direpotkan punya anak, selain biaya hidup yang mahal, tanggung jawab, dsb-nya tetapi aku mendapat satu ‘percikan’ lagi, hidup itu memang penuh warna!
Yang pasti si ibu yang sepertinya telah merelakan keputusan anaknya untuk tidak memberinya cucu, pasti masih memendam rasa hampa dan kesepian di lubuk hatinya. Apalagi dia hanya tinggal sendirian di rumahnya, sementara untuk bertemu dengan anaknya pun belum tentu bisa seminggu sekali. AH…sedih nian rasanya…Mungkin itu pula yang bikin dia terhitung cepat akrab denganku –walau kami baru kenal saat itu –dengan mewanti-wantiku agar tak sungkan datang ke rumahnya, sekadar untuk menengok kebun dan kucing peliharaannya serta mencicipi masakannya. Oh ibu…aku akan datang menengokmu, kalo udah gini jadi inget ibu ku di rumah nun jauh di
Jakarta sana ihik…ihik…ihik…oh SAVE BY THE
BELL , My Hubby called me, ”My rolly pollly, your food will be cold!”
Melbourne Ramadhan 2006
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.