Artikel ke-100 dan Napak Tilas Rollypolly
November 15, 2006 by indo-javanesegirl
Well…well…well…engga terasa ini adalah artikel ke-100 yang aku goreskan di blog kesayangan ini. Padahal dulu sekitar Juni 2004 waktu kali pertama kenal dengan Friendster aku masih males corat coret di blog ini. Soalnya
kan bisa dibaca siapa aja, harus mau ‘legawa’ dengan segala komentar dan lain-lain, jadinya suka gimana gitu (agak risi juga). Jangan-jangan entar dianggap narsis, pamer dan lain-lain negative thinking yang kadang sempat mampir di benak ini. Tapi untungnya komentar teman-teman baik-baik kok
Ah…tetapi niatku
kan cuma mau nulis apa aja yang kualami –bersama hubby –sehari-hari, syukur-syukur bisa sharing dengan teman-teman lainnya. Karena toh belajar itu engga harus melalui hal yang formal (sekolah), lewat ajang seperti ini pun kita bisa saling ‘belajar’ dari hal-hal kecil seperti sifat seorang teman, kehidupan dan aktivitas mereka, serta yang penting bagiku menulis adalah terapi termudah sekaligus murah meriah yang bikin hati ini selalu plong…Maklum mantan kuli tinta ini suka ‘gatel’ kalau sehari aja engga nulis. Sama aja kalau terbiasa ngomong pasti suka engga tahan
kan kalau engga ‘nyerocos’ sehari aja ha ha ha…
Ya udah engga mau lama-lama basa basi. Di artikel ke-100 ini rollypolly/ibuhamil/bumil/MM/Bon –berbagai sebutan akrab dari orang-orang terdekatku –mau nulis yang ringan-ringan aja tetapi lucu kok. Yah tak lain dan tak bukan tentang perjalanan karier dan juga ‘nasib’ rollypolly sampai bisa ‘nyasar’ ke negeri Kangguru ini. Yang jelas setiap pilihan hidup itu pasti akan selalu ada risiko baik itu baik dan buruk. Tetapi aku coba ambil sisi-sisi yang baik untuk ‘disharing’ dengan teman-teman sekalian yang selama ini sudah concern mengomentari dengan kalimat-kalimat yang membangun. Thanks ya buat semuanya! (Ini dari lubuk hati yang terdalam loh, suer dehJ)
Enaknya mulai dari mana ya? Biar lebih cepet kali mulai dari saat bumil di tingkat akhir kuliah di UI. Waktu itu aku inget banget, saat sedang nyusun skripsi, seorang kakak kelas menawariku untuk mau menggantikannya menjadi guru privat untuk anak-anak SD. What? Ngajar anak-anak kecil? Wah pengalaman aja engga punya kok tahu-tahu disodorin kerjaan yang gampang-gampang susah seperti itu sih? Lagipula saat itu banyak teman-temanku (tentunya yang berpenampilan kinclong) lebih seneng menjadi stand guide, sales promotion girl untuk aneka bazar, promo dan pameran besar lainnya yang dulu sering digelar di Balai Sidang Senayan (sekarang Jakarta Convention Center). Selain uangnya lumayan, bisa nampang pake baju keren pula. Aku pun sempat pengen punya kerjaan sampingan seperti itu, yang kebetulan dilakoni sahabat dekatku saat itu. Kayaknya enak deh, kerjanya gampang dan punya baju-baju bagus (tetapi juga harus tahan diplototin cowok-2 bermata nakal kali ye).
Aku sih sempet ikutan beberapa kali jaga di pameran buku dan uangnya emang lumayan buat mahasiswa yang saat itu lagi butuh uang lebih untuk jalan-jalan sama temennya. Apalagi dulu uang jatah dari ortu sangat terbatas. Paling-paling cukup untuk foto kopi diktat dan beli buku. Untungnya aku dapet beasiswa dari Depdiknas dengan embel-embel “beasiswa untuk mahasiswa berprestasi/PPA” yang syaratnya IP-nya harus selalu di atas 3 kalau mau dapet beasiswa ini setiap bulan, lumayan lah waktu itu pertengahan tahun 1990-an dapet uang 100.000 per bulan udah nolong banget. Aku dan teman-teman penerima beasiswa kadang suka males ambil perbulan karena itu biar jumlahnya banyak suka dirapel per 3 bulan, tak jarang uang itu sisa sedikit karena untuk traktir temen-temen, beli baju dan nonton film ha ha ha…Indahnya masa mahasiswa. Lumayan aku dapet beasiswa ini sejak semester keempat, mengajukannya 6 bulan di muka (isi formulir dan menyertakan surat-surat lainnya termasuk referensi dari dosen), meski banyak pesaingnya, Alhamdulillah dapet juga. Waktu kali pertama dapet uangnya langsung abis untuk traktir temen-temen se-gank di Balsem (FISIP).
Singkat cerita karena aku butuh uang untuk nyusun skripsi –mengingat sumber-sumbernya adalah arsip dan buku-buku berbahasa Belanda –karena harus les bahasa Belanda dan biaya foto kopi, maka aku putusin mengiyakan ajakan temanku itu. Yipi…tentu saja temanku senang karena begitu dapet pengganti dia bebas melenggang kangkung, karena ternyata itu janjinya kepada pengelola kursus, sebelum dia resign dia akan mencari guru pengganti yang diinginkan. Ini untuk kali kedua aku jadi korban. Yang pertama adalah korban dari dosenku. Maksudnya karena usulannya untuk menulis skripsi tentang masa kolonial Belanda –sejarah perekonomian
Indonesia sebelum kolaps di zaman Malaise 1929 –aku jadi seperti telanjur basah harus mulai rajin meneliti berbagai arsip di Arsip Nasional dan Perpustakaan Nasional. Untungnya dosen pembimbingku –yang sekarang jadi pejabat di Depdiknas –mau membantu dengan meminjamkan buku-bukunya dan mengenalkan kepada orang-orang ‘top’ yang bisa jadi acuan skripsiku.
Wah engga bayangin kalau saat itu aku harus beli buku-buku yang mahal untuk ukuran kantung mahasiswa. Maklum sebagai pegawai negeri ortuku sangat ‘ketat’ dengan keuangan, apalagi masih ada ketiga adik yang butuh perhatian. Lagipula keluargaku datang dari keluarga sederhana yang engga tiap saat bisa mengabulkan keinginan anak-anaknya. Ah sempat iri juga kalau melihat teman-teman dekatku yang kebetulan anak-anak pejabat atau anak orang kaya yang ke kampus selalu naik mobil dan uang saku per bulan yang besar itu.
Demikianlah waktu kali pertama datang ke tempat kursus itu aku langsung disodori perjanjian untuk mengajar tiga anak yang masing-masing duduk di kelas 5 dan 6 SD. “Wah kok langsung 3 anak Pak? Saya
kan belum pengalaman?” “Jangan kawatir anak-anaknya baik kok, lagipula kata temen kamu academic record kamu bagus tuh. Nanti kamu bisa belajar dan dapat pengalaman bersama mereka. Kamu engga keberatan
kan kalau mereka engga sempet ke tempat kursus kamu yang datang ke rumah mereka. Soal ini nanti akan dijelaskan lebih lanjut,” kata pengelola kursus bimbingan belajar yang bermarkas di Cilandak itu. Ampun deh dasar temenku gila, tega ngerjain temen sendiri.
Murid pertama adalah seorang anak laki-laki yang duduk di kelas 6 SD. Anak ini sekilas pendiam dan penurut. Engga tahunya –mungkin karena anak tunggal dan dari keluarga berada– ternyata lumayan keras kepala dan butuh dorongan motivasi untuk bisa maju! Sebut saja namanya N, aku tanya kepadanya mengapa ortu kamu mengirim kamu belajar ke bimbel ini? Lantas dia jawab supaya bisa melanjutkan ke SMP (Negeri) yang bermutu. Lantas saya tanya lagi, kenapa harus ke sekolah yang bagus? Lalu dia jawab supaya saya menjadi anak yang sukses, pintar dan sebagainya (semua harapan orangtuanya disebutkan). Kamu sendiri maunya gimana? Ya mau juga lulus dengan NEM bagus dan diterima di sekolah favorit itu. OK, kalau gitu biar cita-cita orangtuamu dan kamu tercapai saya –sebagai guru privatmu –juga punya syarat. Kamu mau engga mematuhi syarat-syaratnya? Iya, saya mau asal engga berat Kak. Wah…tentu engga berat dong, syaratnya cuma mau mengerjakan PR yang dikasih ibu guru dan datang tepat waktu serta selalu mengulang pelajaran yang diberikan.
Done! Rupanya murid pertama ini enggak terlalu susah. Walau cowok sebenernya dia anak yang baik, lumayan sopan dan cukup rajin. Tapi karena agak pendiam, aku harus banyak berinisiatif menanyakan kesulitan dan masalah apapun dengan sabar kepadanya. Nanti kalau dia udah tune-in dia akan cerita (tentang pelajaran, guru-2 dan teman di sekolah) dan bahkan nanya hal-hal di luar pelajaran yang untungnya masih bisa aku handle. Ah leganya…tapi kalau murid-muridku mulai nanya yang macam-macam maka aku harus pintar menjawabnya. Dasar anak-anak mau tahu banyak hal.
Beberapa bulan mengajar N aku dapat kabar dari orangtuanya bahwa anaknya menunjukkan kemajuan. Di antaranya mau mengerjakan PR tanpa disuruh-suruh dan nilai ulangannya pun cenderung membaik. Bagus deh…berarti kerja keras ku selama ini engga sia-sia. Orangtua N juga berharap cita-cita mereka mengrimkan anak tunggalnya bersekolah di SMP X bisa kesampaian.
Aku cukup senang bahwa cara mengajarku ternyata bisa diterima oleh N dan orangtuanya. Bahkan sejak beberapa bulan itu orangtua N minta agar aku yang datang ke rumah mereka biar waktu belajar lebih banyak dan padat. Kata mereka pengelola bimbel sudah setuju dan tentu saja honorku akan berubah (karena datang ke rumah) yah lumayanlah tadinya honor perjam cuma cukup untuk beli semangkuk bakso di GM sekarang bisa 2 kali lipat. Untungnya rumah N masih dekat dengan tempat kursus, jadi aku engga perlu keluar uang tambahan untuk transportasi (dasar mahasiwa).
Aku lihat raport N memang ada perubahan, terutama untuk pelajaran IPS, Matematika dan Bahasa Indonesia. Sebelumnya ketiga nilai mata pelajaran itu pas-pasan saja. Wah aku mesti nggenjot nih supaya nilai mata pelajaran itu bisa terus stabil untung-untung naik sehingga angka rata-rata raport dan NEM-nya bisa di atas 7. Untungnya kedua orangtua N sangat membantu. Setiap selesai kursus, mereka bertanya ini itu kepadaku, seperti kelemahan dan kelebihan sang anak. Bak seorang psikolog (amatir) aku pun mencoba menjelaskannya dengan baik. Kadang mereka mencoba ‘menahanku’ dengan menawarkan makan malam segala. Weleh…aku sih mau aja cuma
kan aku juga perlu waktu untuk diri sendiri. Yang jelas setiap selesai kursus orangtua N sudah menyiapkan penganan kecil untuk teman ngobrol kami.
Demikianlah, hampir setahun aku bersama N –sebelum masa ujian tiba –aku tak bisa mendampinginya karena harus ‘melancong’ ke Paris memenuhi undangan kakak sulungku yang waktu itu punya anak pertama (tahun 1996). Kebetulan hanya aku yang punya waktu luang (kuliah sudah usai). Mumpung dibayarin ini, why not? Walau aku harus meninggalkana murid-murid tersayangku termasuk N yang meminta agar aku stay dan datang memberi les menjelang EBTA digelar. Tetapi waktuku engga banyak karena aku harus pergi secepatnya ke
Paris dan selepas itu berencana ikutan kursus wartawan di sebuah lembaga pers.
Well…akhirnya N memilih belajar sendiri dan mempersiapkan EBTA bersama orangtuanya. Namun sebelum berangkat aku bekalkan segala kopian soal-soal (yang berguna untuk dipelajari) serta rambu-rambu mengerjakan EBTA dan mata pelajaran apa saja yang harus banyak diulangnya. Di akhir kursus itu aku sempat memberikan evaluasi terakhir untuk N dan orangtuanya. Aku juga berharap agar nilai rata-rata raport dan EBTA N bagus (di atas 7) syukur-syukur 8 sehingga bisa bersaing dengan murid-2 lainnya untuk mendapat bangku di sekolah favorit yang mereka idamkan.
Sedih juga harus berpisah dengan murid-murid yang kadang nakal tapi menyenangkan tersebut. Karena berkat mereka aku juga bisa belajar tentang jiwa anak-anak. N dan orangtuanya menangis saat memberikan kenang-kenangan untukku (diary dan seperangkat alat tulis). Mereka berharap bila N bisa masuk ke SMP tersebut aku masih mau menjadi guru pembimbingnya. What? Ini
kan cuma profesi sementara loh…sementara aku sendiri sejak dulu pengennya jadi pengelana alias wartawan yang bisa ke
sana sini sambil mempelajari karakter manusia yang aneh-aneh itu ha ha ha. Walau sekembali dari
Paris lagi-lagi aku harus tertambat beberapa bulan di sebuah bimbingan belajar yang lebih besar dan kali ini harus mengajar untuk anak-anak SMP dan SMU (untung cuma 6 bulan, kalau engga stress kali ha ha ha). Yang jelas jadi guru itu emang menyenangkan, aku ada bakat juga rupanya, meski dari lubuk hati terdalam menjadi jurnalis/penulis adalah ‘roh’ semangat hidupku yang sulit dipadamkan.
Tapi aku boleh bangga akan hasil kerja kerasku, karena murid-muridku seperti N akhirnya lolos ke SMP favorit di Jakarta Selatan tersebut. Seperti halnya keinginan mereka semula, mereka mencoba menghubungiku langsung (lewat telepon rumah) agar anaknya kembali les privat kepadaku. Sayang seribu sayang, saat itu aku mulai aktif mengikuti workshop penulisan (jurnalis) dan berharap secepat mungkin bisa bekerja menjadi jurnalis, apalagi skripsiku sudah selesai dan mendapat nilai menakjubkan. Thank God!
Nah murid kedua, ketiga (dan keempat) kebetulan perempuan. Jadi selama hampir setahun itu aku mengajar 4 anak sekaligus dalam waktu yang bergantian antara Senin-Jumat (sore). Murid kedua sebut saja T, ketiga A dan keempat B. Masing-masing memiliki karakter dan watak yang berbeda. Dan inilah serunya mengajar anak-anak tersebut.
Murid kedua T datang dari keluarga amat berkecukupan yang tinggal di kawasan Lebak Bulus. Anak ini –karena bungsu engga jadi–adalah anak tengah yang lumayan bandel dan juga tomboy. Walau perempuan dia agak ‘nakal’ alias punya jiwa pemberontak. Makannya aku harus ekstra sabar menghadapi ulahnya yang sering males datang ke tempat kursus dengan berbagai alasan yang dibuat-buat. Akhirnya aku yang harus mengalah datang ke rumahnya yang jauh dari jalan utama (jalur angkot antara Lebak Bulus dan Cinere).
Ah…kalau bukan karena dedikasi kerja (telanjur teken kontrak) dan aku sudah senang menjadi seorang guru serta tentunya butuh uang he he he aku agak males sebenernya. Tapi aku juga punya sifat ‘petualang’ yang cukup membantu, makanya aku berpikiran seperti ini “Masa sama anak kecil kelas 5 SD aku kalah sih?” Inilah yang menjadi cambuk sehingga aku tetap rajin dateng ke rumah T. Dari beberapa kali pertemuan aku bisa ambil kesimpulan, sebenernya T ini anak yang baik cuma karena orangtuanya sibuk (dua-duanya kerja) dia merasa kurang mendapat perhatian. Apalagi jarak dengan kakak pertama cukup jauh (7 tahunan) dan baru punya adik pula. Yah begitulah nasib anak tengah…yang kurang mendapat perhatian.
Dengan bantuan buku-buku psikologi yang aku baca akhirnya aku coba melakukan pendekatan sesuai anjuran buku-buku tersebut. Aku coba sabar dan menjadi pendengar yang baik untuk T. Walau kadang ceritanya suka ngalor ngidul dari teman-teman dan guru, orangtuanya, kakak dan adiknya hingga acara di TV yang kalau tidak aku stop bisa-bisa waktu mengajar habis untuk mendengarkan kisah-kisah menariknya. Kadang dia pun coba mengajakku ‘main’ mencoba mainan barunya yang diberikan orangtuanya.
Wah…trik kamu lumayan juga T! Untungnya bu guru lebih pengalaman ya ha ha ha. Maka aku sering mencoba merayu untuk kembali fokus ke pelajaran. Walau di tengah-tengah waktu belajar dia sering coba-coba mencari alasan untuk ke toilet, menengok kucing peliaharaannya atau menelpon sahabatnya. Kalau sudah gini aku yang harus tegas kepadanya. Aku jelaskan mengapa ortu kamu memanggil guru ke rumah? Mengapa T harus belajar dengan seorang guru privat? Dan yang lebih penting aku jelaskan perjalananku dari rumah yang harus menggunakan angkot dan jalan cukup jauh (10-15 menit) untuk tiba ke rumahnya dua kali seminggu. Aku tegaskan betapa beruntungnya dia punya sopir pribadi yang siap setiap saat mengantarkan T ke manapun T mau. Aku bilang kalau T malas yang rugi bukan aku tetapi dia. Mungkin gertakku didengarnya, karena sejak pertemuan kelima dan seterusnya dia udah rajin duluan nongol di ruang belajar. Hiya…akhirnya aku bisa menundukkan anak ini! Ha ha ha…
Anak ketiga bernama A, sepertinya tak banyak cerita tersisa dari anak ini. Kebetulan anak perempuan yang bungsu ini punya sifat lebih ‘umum’. Maksudku anak ini berpenampilan dan berpembawaan kalem bahkan mungkin lebih dewasa dari anak seumurnya (11 tahun). Tak banyak masalah selama aku mengajar dengannya. Kalau bertanya pun dia mengajukannya dengan sopan, dan anak ini juga rajin mengerjakan PR nya. Akhirnya ada juga anak yang bikin aku lega ha ha ha…
Anak keempat bernama B. Sebagai anak tunggal dia juga agak ‘bandel’. Tetapi aku anggap itu lumrah untuk seumurnya. Lagipula mungkin karena dia terlalu banyak les ini itu di luar jam sekolah sehingga kadang suka merasa jenuh. Anak yang bersekolah di sekolah internasional di kawasan Bintaro ini ikut les musik, renang, dan bahasa Inggris di sekolahnya. Di luar itu B anak yang sangat aktif bertanya, mungkin bisa dibilang dia sangat ceriwis. Kadang aku kewalahan juga mendengar ocehannya yang tiada berhenti itu. Atau di tengah pelajaran banyak bertanya yang bukan pada tempatnya. Untungnya anak cerdas ini cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Sehingga aku tak perlu berlama-lama di rumahnya. Masalahnya kalau lagi engga membawa kendaraan sendiri (maklum keluargaku hanya punya satu mobil) aku harus naik angkot dan dilanjutkan berjalan kaki cukup jauh ke rumahnya yang terletak di kawasan Bintaro sektor 9 itu. Makanya aku bilang, kalau sudah mengerti silakan diulang sendiri dan kerjakan PR dengan baik ha ha ha. Alhamdulillah anak ini mengerti dan sejak itu tidak banyak mengajak ‘ngobrol’ lagi.
Demikianlah pengalamanku sebagai ibu guru privat untuk anak-anak SD. Selepas dari mengunjungi kakakku di Paris aku sempat bekerja di bimbel dan mengajar untuk anak SMP dan SMU –lain kali aku cerita pengalamanku menjadi guru bimbel SMP/SMU –tapi hanya bertahan sampai 6 bulan, karena ternyata lamaranku untuk magang diterima oleh sebuah koran bisnis ternama di Jakarta. Dari sinilah jalan untuk menjadi jurnalis terbuka lebar.
Koran ini ternyata ingin membuat koran daerah di Solo yang menurut mereka punya potensi besar untuk berkembang. Tak beberapa lama magang di koran ini aku pun mengikuti tes untuk menjadi karyawan di koran daerah itu. Dengan beberapa kali tes (tertulis, psikologi, kesehatan, lisan, diskusi) akhirnya aku dinyatakan lulus tes. Kami –yang lulus tes –diikutsertakan dalam workshop selama 6 bulan untuk menjadi jurnalis lapangan yang sesungguhnya dengan bimbingan Bapak Ashadi Siregar dkk dari Yogya (penulis buku Cintaku di Kampus Biru).
Dan seperti air mengalir karirku di bidang jurnalistik benar-benar dimulai dari bawah (nol) dan dengan perjuangan berat pula (menurutku demikian). Sebagai jurnalis lapangan di daerah aku merasakan tempaan yang berguna untuk karir di masa depan. Jatuh bangun sebagai guru dan jurnalis yang pernah kulakoni bagiku tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nasib rakyat kecil (petani) di Solo dan daerah sekitarnya yang pada tahun 1997-1999 sangat tertekan dan sulit mengemukakan pendapat.
Nasib dan takdir rupanya sering menyertai kehidupan manusia. Demikianlah selepas hampir 3 tahun di Solo aku pun memutuskan bekerja di
Jakarta apalagi mengingat ada tawaran yang menggiurkan dari seorang teman. Kali ini sasaranku adalah Cyber Media. Dengan tekat dan semangat bulat (maklum masih muda rek) aku nekat bolak balik Solo-Jakarta dengan menumpang bis malam untuk melakukan tes tertulis dan wawancara. Untungnya mereka cukup fleksibel dan mau memberi kemudahan untukku, dengan memberi waktu wawancara di akhir pekan sehingga tidak mengganggu ritme kerjaku di Solo. Ketika akhirnya tawar menawar gaji (lewat telepon) deal aku pun memberitahu ke bos besar soal rencana resign-ku.
Sambutannya? Seperti yang aku duga. Dia marah besar. Bukan hanya aku sudah disekolahkan sampai ke Jerman tetapi mungkin karena dia merasa aku punya prospek bagus di kantor yang dia pimpin (itu
kan menurut versinya ha ha ha). Meski dalam hati aku pun merasa bersalah, tapi bukankah saat mendaftar untuk mendapat beasiswa yang disodorkan olehnya itu tanpa ikatan perjanjian (dinas). Yang menurutku aku bebas/tak punya beban bila sewaktu-waktu hengkang dari kantor itu? Walau perasaanku juga engga enak hati. Apalagi bos besar ini cukup ‘perhatian’ kepadaku. Maksudku (jangan pada salah sangka ya
Ah…kali si bos merasa kehilangan anak buahnya yang manis, berbakat dan baik hati ini, halah geernya kumat lagi ha ha ha. Yang pasti bos besar tidak mau menandatangani
surat resignku dan juga tak muncul di acara perpisahan untukku. Mungkin sampai kini –ketika koran yang dipimpinnya berkembang pesat karena sudah punya penerbitan sendiri dan radio –dia masih menyimpan rasa marah untukku. Yang jelas aku sudah berusaha menghiburnya, yakni setiap menulis buku aku selalu mengirimkan kopinya kepada bos besar. Semoga dia tahu aku masih seperti yang dulu, anak buah yang haus ingin belajar apa pun!
Di kantor cyber media
Jakarta banyak hal terjadi. Salah satunya aku mengenal sosok lelaki yang awalnya tak kuhiraukan tetapi tak tahunya justru menjadi suamiku. Ya, benar tebakan Anda. Karena kebanyakan bekerja di depan komputer (maklum namanya juga cyber media) aku pun punya waktu untuk surfing internet. Dan muncullah pangeran (tampan juga sih menurutku) di bilik chattingku. Soal ini kayaknya udah basi ya, karena aku pernah menceritakan soal pertemuan dengan suamiku di blog ini.
Engga lama di cyber media aku kerja di sebuah harian juga masih di
Jakarta . Hampir dua tahun di sini ada peristiwa besar dalam hidupku. Ya, kekasih hati yang sudah hampir tiga tahun berhubungan itu (lewat telepon, internet, bertemu langsung) akhirnya melamar pujaan hatinya. Maka dengan berat hati si jurnalis pun terpaksa meninggalkan pekerjaan yang menyenangkan itu dan ikut ke tanah seberang bersama suami tercinta.
Inilah yang dinamakan takdir/nasib dan sebagainya. Di negeri baru ini banyak hal dialami sang mantan jurnalis. Beberapa kisahnya pernah dituliskan dalam blog ini pula. Namun satu yang pasti setiap tahapan kehidupan memang punya cerita tersendiri.
Ada cerita yang manis, asam, pedas dan asin (kayak permen ya). Dan setiap cerita itu merupakan mozaik yang menghiasi setiap kehidupan manusia. Maka nikmatilah setiap potongan cerita itu karena mungkin suatu saat kita tak akan mengalaminya untuk kali kedua!
Saat ini aku sedang menikmati peran baru sebagai calon ibu yang menanti sang buah hati. Dan banyak hal kecil yang telah membuka mata hati ini (menjadi hikmah). Salah satunya yang paling gampang, kalau dulu enggan masuk ke dapur (dengan segala alasan sibuk bekerja, ada pembantu/ortu) sekarang Alhamdulillah apa-apa harus dikerjakan sendiri termasuk memasak. Kalau dulu –baru-baru menikah –sering bikin gosong masakan, sekarang suami pun tak sungkan memuji masakan sang istri dari masakan Indo yang aneka rasa sampai Western Food (kepepet sih, di sini mana ada kalau males masak ada tukang sate keliling, bakso, syiomay, nasi goreng, mie tektek, dll). Ya, Tuhan punya rencana dan maksud untuk setiap umatnya. Dan semua itu pasti ada hikmahnya. Seperti yang dikatakan seorang teman dalam acara pengajian baru-baru ini. “Kalau kita peka (hati dan pikiran) hal-hal kecil apapun yang terjadi pada kita dan di sekitar kita pasti akan membuat kita berpikir.”
Melbourne , Nov 06
3 Responses to “Artikel ke-100 dan Napak Tilas Rollypolly”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. hidup nuni.
hebat………….!!!!
Yang terhormat
Rakyat Indonesia
Di tempat.
Seluruh Rakyat Indonesia dimanapun berada
Sepuluh tahun sudah berlalu dan tidak ada yang berubah
Beberapa berganti nama, beberapa berganti wajah
Beberapa berganti istilah …. Semua seolah berganti
Tapi semua tetaplah sama
Untuk itu, ijinkan aku mohon maaf
Karena hingga hari ini
Tak ada perubahan yang bisa dipersembahkan
Tak ada harta yang bisa diwariskan
Tak ada jabatan yang bisa dibanggakan
Aku sadar dan minta maaf
Karena hanya kejujuran bercerita yang tersisa
Tentang perjalanan panjang dari rangkaian cita-cita
http://www.pena-98.com
http://www.adiannapitupulu.blogspot.com.