Dari Ngaji, Workshop dan Seni Tari Cirebon
November 14, 2006 by indo-javanesegirl
Hai hai hai blog apa kabar? Ketemu lagi nih. Hmmm leganya kemaren nelepon ortu di
Jakarta –mumpung beli kartu telepon mursida (murah meriah nih) –ngobrol sama ibu, bapak dan eyang putri sampe berbusa. Intinya kita ngobrol soal kabar masing- masing, kesehatan aku dan janin yang makin lincah bergerak serta membicarakan rencana kedatangan ibu ke OZ. Yippi! Mudah-mudahan ibu bisa datang ke sini agak lamaan ya (maunya sih gitu).
Terus ibu juga nanya rencana bikin nujuh bulanan. Kata orang sih nujuh bulanan itu ga penting (ga wajib dalam Islam) tapi karena udah mentradisi di berbagai budaya masyarakat kita, makanya jadi seperti kebiasaan. Ya udah karena aku anak yang penurut, baik budi dan tidak sombong jagoan lagipula pintar (OH BOY) setuju aja sama usul ibu untuk bikin ‘besekan’ yang dikirim untuk para tetangga di rumah sana. Padahal di sini pun aku berencana bikin ‘lunch’ bareng teman-teman pengajian. Jadi, ngaji mingguan seperti biasa terus makan-makan –maunya sih ada shower party atawa dapet hadiah kejutan dari teman-2 untuk kita ha ha ha –makanya minggu depan aku bakal sibuk nih nyiapin bahan-bahan yang akan dimasak untuk menu santap siang tersebut.
Ibu juga bilang, salah seorang tanteku (tante dari suami adikku) yang kebetulan tinggal serumah dengan adikku di Jakarta sering nanya kabarku dan kangen juga denger suaraku, suit…suit…suit…Kata tante ini (seperti diceritakan ibu), kalau denger suaraku kok renyah banget, kalau ngomong mukanya selalu katawa, ceritanya lucu-lucu dan engga putus kalau udah ngomong, waduh…Ya udah demi menyenangkan si tante yang suka sanguin kueh-kueh kering kalau aku balik ke OZ, akhirnya malam waktu sini sebelom bobok sama si yayang dan ‘si kecil’ aku bela-belain nelpon dia. Wah…memang ternyata sambutannya luar biasa. Tante begitu senang mendengar suaraku dan tanya ini itu sampai hubby geleng-geleng kepala mendengar cerocos sang istri yang melaju seperti kereta super cepat Perancis Train Grand Vitesse (TGV). Walau akhirnya hubby ikutan ngobrol juga dengan tanteku yang sama-sama doyan ngomong ini.
Ya begitulah, hari itu berlalu dengan menyenangkan walau fisik ini cukup lelah. Seharian aku beraktivitas, dari pagi mengaji (privat) dengan seorang teman asal
Indonesia yang bener-bener mumpuni. Aku belajar dari Iqro (dasar lagi) –malu deh jadinya –demi mendapatkan kebeneran dalam ucapan, lafal dan bacaan. Setiap aku salah mengucapkan sang guru akan mengoreksi dengan tegas. Ah…kapan ya aku fasih baca Alquran (bahkan hafal dan tahu artinya) seperti guruku yang masih muda ini. Dan ngomong-ngomong soal sang guru yang baru bertaut muka sebulanan ini aku jadi sedih juga. Guru yang baik ini akan segera kembali ke
Indonesia karena tugas belajar suaminya di sini sudah selesai. Ah…siapa nanti yang akan menggantikan dia? Mudah-mudahan tak kalah baik, pintar dan menyenangkan seperti dia ya.
Selama ikut pengajian dengan teman-teman
Indonesia ini –plus satu orang bule mualaf– aku merasakan menemukan oase baru. Mereka cukup terbuka dan mau sharing soal ilmu agama dengan bahasa yang mudah dipahami. Jadi engga banyak waktu untuk bergosip ria. Tapi karena kebanyakan anggotanya ibu-ibu yang baru punya anak, jadilah grup tersebut juga menjadi ajang sharing tentang perkembangan anak-anak dan sebagainya. Yah seru juga sih, kalau para ibu ini udah ngobrol…Yang penting kita merasa ada teman di tanah rantau. Bahkan ibuku sempat kaget ketika mendengar aku bakal mengadakan pengajian untuk nujuh bulanan. Wah hebat ya di
sana kamu malah aktif ha ha ha…Hmmm nyindir nih yeee…Yah begitulah bu, mereka memang teman yang mengasyikan, sebagian juga sudah menawarkan bantuan ,”Mau dimasakin apa?” Aji mumpung nih, gimana kalo minta masakan yang selama hamil ini belum kesampaian ya dek? Kayaknya yang di perut juga setuju tuh! Ha ha ha…
Begitulah usai ngaji, aku datang ke acara workshop untuk perempuan migran di OZ. Di workshop itu kita belajar dan berdiskusi berbagai tema menarik seputar kehidupan sehari-hari yang dibawakan secara menarik oleh para instruktur bule. Kadang kita bersimulasi –sehingga tak membosankan –bila membahas suatu masalah. Dari workshop ini aku jadi banyak tahu tentang domestic violence (ke mana harus mengadu bila ini terjadi pada diri kita atau teman kita), lembaga apa yang bisa dirujuk termasuk mengenai permohonan finansial support dari pemerintah kalau memungkinkan, juga masalah lain seperti peraturan keimigrasian, Australian Culture, pendidikan anak dan keluarga, penanganan anak bermasalah, dll topik yang menurutku berguna untuk diketahui setiap ibu. Coba kalau di
Indonesia workshop seperti ini marak digelar ya (bukan cuma NGO aja yang proaktif) pasti banyak perempuan
Indonesia yang lebih melek hukum, kesetaraan jender dll. Ah…utopia ini mungkin suatu saat bisa terlaksana. Someday.
Ya sudah, sekarang beralih ke workshop lainnya. Busyet deh…untungnya hari ini cuaca lagi oke loh blog, maksudnya lagi bagus gitu, sekitar 20 derajat Celsius dan ada matahari yang nongol pula (jadi engga perlu jaketan segala). Sore harinya aku dijemput hubby untuk mengikuti workshop tentang kehamilan. Workshop yang engga wajib ini digelar oleh rumah sakit pemerintah tempatku nanti melahirkan dan gretongan (gratis lah yaw). Workshop terbagi dalam dua kelompok, untuk perempuan membicarakan take care yourself during pregnancy dan untuk calon ayah bertema talking dads.
Wah seru euy! Kita berdelapan (yang perempuan) membahas isu-isu umum seputar kehamilan termasuk masalah-masalah yang sering muncul dan cara mengatasinya. Terus terang fasilitatornya enak abis (komunikatif) dan ramah, yang satu suster dan yang lainnya psikoterapi. Jadinya kita merasa ngobrol dengan temen deket, apalagi si suster itu berbakat ngelawak (komedian) sehingga waktu dua jam pun terasa berlalu begitu cepat.
DIKASIH BUNGA
Nah, beberapa saat sebelum workshop usai kami mendengar suara gaduh di luar. Apa ya? Oh…rupanya para calon ayah sudah siap menyambut (menjemput) para bininya. Dan…eng ing eng…mereka membawa sekuntum bunga tulip yang dipersembahkan untuk pasangan tercinta. Aku pun jadi terenyuh dan terharu (kayak di film-film aja nih) manakala hubby bilang,” Wife, let me give this flower for you and I hope you like it,” kata hubby serius sambil mengecup bibirku. Ha ha ha….aku jadi berpikir apa ya yang diobrolkan para calon ayah ini di kelas bersama instrukturnya? Kok ber-happy ending seperti ini?
Karena tak tahan dengan ‘desakan’ sang istri yang ingin tahu, akhirnya di mobil hubby cerita bahwa tadi di kelas mereka bicara soal support calon ayah kepada istrinya. Bagaimana menyikapi perubahan yang bakal datang itu (punya anak). Persiapan apa saja yang sudah dilakukan. Hal-hal apa saja yang membuat pasangan senang dan bahagia serta siap menghadapi persalinan dan lain-lain. Dan di akhir sharing rupanya si instruktur memberi sekuntum bunga untuk para calon ayah ini dan mempersilakan mereka menjemput para istri di kelas lain. Aih…bisa-bisanya deh! But aku kagum dengan cara mereka membuat serangkaian workshop yang bagi calon orangtua tentu saja sangat berharga. Lagi-lagi satu utopia yang sampai kini mungkin masih menjadi mimpi ‘gigit jari’ di Indonesia. Masih ada 3 workshop yang ingin kulalui bersama hubby seperti Breastfeeding, All Day Workshop for parent dan Natural Birth Workshop. Wah kali-kali suatu saat aku bakal menulis buku tentang kehamilan dan melahirkan dari A-Z, mungkin buku-buku dan bahan-bahan workshop yang kudapat selama ini akan menjadi modal berharga. Lagipula, hubby sudah memberi usulan kepadaku, “Kenapa kamu tidak menulis buku tentang ini (kesehatan dan kehidupan perempuan/ibu RT) dengan judul seperti ini QERIFJSCKBZXNF?” Lagi-lagi hubby mencetuskan ide-ide brilliant-nya. Wah kalau gini caranya, mudah-mudahan bener seperti apa yang didoakan sahabatku, “Mudah-mudahan ada buku ketiga, keempat, dan seterusnya dari Mba Nuni.” Amien!
Oh ya blog, bukuku yang kedua masih menunggu endorsment dari orang-orang (seleb) di
Jakarta . Dariku sendiri sih udah selesai termasuk tulisan sekapur sirih dari Bapak Konjen dan Direktur Program Siaran Indonesia Radio ABC. Kabar dari penerbit mengatakan, bahwa mereka sedang menunggu kebersediaan dua orang seleb kita seperti Ra Sang dan Sand M untuk menuliskan sepatah dua patah kata untuk dimuat di cover belakang buku tersebut. Mudah-mudahan lancar ya jadi dalam waktu dekat bisa segera di-publish.
Wah hari ini kenapa langit agak kelabu ya? Cuaca pun jadi ikut-ikutan dingin. Ah cuaca di Melbourne memang sering tidak menentu, seperti mood seorang perempuan (swing mood). Kalau seharian begini terus bisa-bisa rencana nonton acara pentas Seni Tari Cirebon di Melbourne Uni bisa gagal nih. Soalnya kalau cuaca engga mendukung mana enak nonton acara seni sambil kedinginan? Mumpung dapat undangan dari seorang teman, aku pengen banget datang bersama hubby, biar hubby tahu berbagai kesenian tradisional di negaraku, jadi bukan hanya seni budaya Jawa aja yang sudah cukup familiar untuknya. Dan tentunya, nanti bakal ada acara makan malam khas Cirebonan,
kan asyik tuh, sekaligus bisa memberi pengenalan kepada hubby tentang cita rasa masakan nusantara yang beraneka ragam. Mudah-mudahan nanti sore cuaca berangsur membaik ya, sungguh aku ingin menyaksikan kesenian
Cirebon –seperti Tari Topeng –yang dibawakan para seniman tari mumpuni dari tanah asalnya. Lagipula aku udah janji dengan teman yang mengundang akan datang bersama hubby tercinta. Semoga jadi ya!
2 Responses to “Dari Ngaji, Workshop dan Seni Tari Cirebon”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Wah, emang bikin ngiri workshopnya mbak. pengen ikut, palagi kalo dah jadi bumil juga nanti…kalo gitu, aku ikut dukung, hasil ikut workshopnya dibikin buku, supaya utopianya jadi kenyataan, paling gak lewat buku dan someday ada juga yang mau menerapkan langsung jadi workshop serupa di sini
selain itu, ada juga yang bikin ketawa. kalimat mbak yang ini nih: “Ya udah karena aku anak yang penurut, baik budi dan tidak sombong jagoan lagipula pintar (OH BOY)”. Hahaha, jadul banget sih, catatan si boy, alamak…emang gak ada matinya ya 80’s, eh, belon deng ya, masih 90’s, hehehe
Insyaallah Ki, ada buku lanjutan yang ngupas soal seputar kehamilan/kesehatan/kehidupan perempuan sehari-hari. Itu sudah ada di pikiran sih, tinggal gimana nulisnya. Mudah-2 an diberi kemudahan spt buku kedua (lancar bgt nulisnya). Mudah-2 an (sbg jurnalis) kamu bisa menjadi agen perubahan di RI tercinta. Iya nih susah ngapus kenangan tahun 80-an ha ha ha…Met kerja Ki, udah kontak dengan Marianne?