Have a Good Journey to Marianne
November 7, 2006 by indo-javanesegirl
Akhirnya teman bermain gamelan saya Marianne dan suaminya akan berangkat ke Solo untuk melakukan riset sekaligus plesiran (jalan-jalan). Bule seumuran ibu saya ini adalah dosen di
Melbourne University . Saya kenal Marianne ketika bergabung dengan Melbourne Community Gamelan (MCG) yang anggotanya kebanyakan bule dan satu dua anak-anak Indo-Australia (seumur saya/mahasiswa) yang tertarik dengan kebudayaan adiluhung bangsa tersebut.
Tetapi berhubung saya akhirnya apu (hamil/bahasa suku Maori di NZ –Red) maka saya cuma bisa ikut latihan beberapa bulan saja. Soalnya daripada saya mengganggu program latihan mereka yang padat setiap Senin malam itu, lebih baik saya mengundurkan diri karena toh nanti-nanti saya masih bisa ikutan lagi (dijamin dapat tempat oleh ketuanya ha ha ha…kayak apa aja ya). Yah begitulah mereka menyayangkan keputusan saya itu, tapi apa boleh buat saya harus lebih mengutamakan kesehatan janin yang ada di perut dong, apalagi belakangan ini si janin udah mulai ngajak ‘berkomunikasi’ walau hanya lewat tendangan-tendangan (kecil maupun keras) di perut yang dia lakukan di saat-saat tertentu. Ah…asyiknyaJ
Demikianlah, walau saya engga aktif lagi di MCG tapi saya masih terus keep in touch dengan beberapa anggotanya, terutama dengan Marianne yang duduk di sebelah saya setiap kami berlatih karena kami sama-sama memainkan alat musik bernama Saron. Dia cukup ramah dan perhatian kepada saya, apalagi ketika mengetahui saya apu. Seperti ibu-ibu pada umumnya dia sering mengajak saya ngobrol. Dan belakangan saya mengetahui dosen seni budaya ini bermaksud mengunjungi Solo untuk ketiga kalinya pada November ini.
Sejak saya engga berlatih lagi tentu saja Marianne merasa ‘kehilangan’ teman ngobrolnya karena itu dia rajin berkirim e-mail menanyakan kabar dan sebagainya termasuk berdiskusi tentang rencana kepergiannya ke Solo tersebut. Wah…saya kagum juga dengan dia, semuanya telah direncanakan dengan baik sejak 3 bulan lalu.
Marianne rajin bertanya kepada saya setelah mengetahui saya pernah bekerja di Solo dan Yogya (preman Solo kaliJ). Saya memberi tahu tempat penginapan yang ‘Njawani’ dan dekat dengan Keraton Solo. Maksudnya Njawani, tempatnya berupa rumah tua khas Solo milik bangsawan Solo, tetapi dengan fasilitas modern ala hotel masa kini dan tentunya dengan harga ‘miring’ untuk bule. Untungnya saya punya sahabat (wartawan Kompas) yang kerja di Solo, yang membantu saya memberikan informasi terkini tentang apapun di Solo (maklum udah lama engga jadi preman Solo ha ha ha). Bahkan waktu saya ke Solo tahun lalu bersama suami (untuk honeymoon yang keterusan) saya bisa menginap di hotel ‘kelas berbintang’ tetapi dengan diskon lumayan karena memakai kartu privilege (discount) yang dimiliki teman saya ini.
Lumayan, nginep di hotel berbintang tapi bayarnya murah bo! Suami pun ikut senang, “Wah asyik juga ya kalau kamu punya banyak teman wartawan apalagi kalau mereka tinggal di berbagai wilayah
Indonesia jadi kalau kita berlibur bisa menikmati kemudahan itu.” Dasar sama aja bule or not bule! Ah…dulu pun saya begitu (waktu masih jadi wartawan) merasakan privilege yang sama. Kalau bertugas ataupun berlibur bersama keluarga bisa menikmati kemudahan itu, apalagi kalau menginap di jaringan hotel yang sama dengan kantor kita (satu payung) diskonnya lumayan banget, sehingga bisa beli oleh-oleh banyak untuk teman dan keluarga.
Ngomong-ngomong soal pertemanan ini, saya jadi ingat tulisannya kolumnis Samuel Mulia di Kompas Minggu baru-baru ini tentang ‘Pilih-pilih Bulu’. Intinya kata Samuel, selama hidup jangan pernah ‘pilih bulu’ karena kita engga pernah tahu masa depan kita. Siapa tahu orang yang sekarang kita benci, tidak kita hiraukan dan kita anggap remeh justru suatu saat yang akan menolong kita. Soalnya –berdasarkan pengalaman pribadi –dulu sekali loh engga tahu kalau anak-anak sekarang ya, anak-anak yang datang dari kelas menengah atas biasanya sih begitu, hanya mau berteman dengan anak-anak yang sama ‘kelasnya (kelas bulu)’. Wah zaman sekarang, cara bergaul begitu sih udah engga musim ya. Mudah-mudahan temen-2 saya di zaman SMP dan SMU dulu yang masih punya pikiran seperti itu segera berubah. Rugi bo! Engga mau membuka diri untuk sesama!
Bahkan sepertinya ada yang sampai sekarang maunya bergaul dengan teman mantan se-gank dulu! Aih aih! Mungkin mereka menganggap yang lain engga penting atau apalah. Padahal roda itu terus berputar (katanya sih begitu, bener ga sih?) engga selamanya kita di atas terus, kalau begitu sih rodanya engga bakal jalan dong, alias diam di tempat. Maka itu saya cuma bisa mendoakan’ semoga teman-teman yang punya pikiran sempit seperti itu segera berubah dan mau berteman dengan orang di luar gank-nya yang mungkin engga cantik, engga kaya (apa hayo) banget, dll embel-embel made in dunia! Padahal di atas langit masih ada langit.
Buktinya mau sedikit contoh? Mana pernah saya sangka teman kos saya yang dulu masih mahasiswa di Yogya ini sekarang jadi wartawan (
surat kabar terbesar di
Indonesia ) dan akhirnya banyak membantu saya dan teman bule saya itu. Juga sebaliknya, seorang teman (kebetulan wartawan juga) di Jakarta yang dulu ‘sepertinya agak malas’ bergaul dengan saya, akhirnya suatu saat membutuhkan pertolongan saya ketika dia akhirnya menemukan jodoh pria WNA yang sekota dengan tempat tinggal saya. Who knows? Jadi, jangan belagu deh, mending ke laut aja! (Ini kata lirik lagu rap yang dinyanyiin penyanyi Indo loh).
Herannya, belakangan ini sering banget (sebenarnya sejak dulu sih) kalau saya memikirkan seorang teman eh engga lama kemudian dia bakal mengontak saya by e-mail, sms, atau chatting. Wah lucu juga ya. Kata adik saya itu namanya telepati. Masa benar sih? Makannya kalau ada sesuatu yang saya benci/tidak senangi saya suka takut sendiri. Soalnya takut apa yang saya pikirkan tentang orang itu/sesuatu benar-benar terjadi. Seperti baru-baru ini, (sorry banget loh, namanya juga manusia masih lemah) saya mem’bathin’ tentang tingkah seorang teman yang menurut saya kurang berkenan, eh ga lama kemudian dia kirim kabar dan akhirnya bikin saya luluh/trenyuh juga, he he he…udah ah ga mau keterusan, berat bo! Biarlah semuanya berjalan apa adanya sesuai kehendak-Nya!
Balik lagi ya ke Marriane, pekan ini dia bakal ada di Solo untuk riset dan berlibur bersama suami. Dan dia cukup senang sudah mendapat ‘sedikit bekal’ dari saya. Misalnya orang-orang yang bisa dia kontak selama di
sana , tempat-tempat menarik (pertunjukan, restauran, tempat jajan termasyur di Solo) serta tentunya kontak sahabat saya yang welcome akan kedatangan Marianne, thanks a lots ya Ki!
Eit…di e-mail-nya sebelum berangkat Marianne bilang ke saya, “Kamu mau dibawain apa Nuni? Wah…terus terang saya sih seneng banget kalau dia sampai punya pikiran seperti itu. Akhirnya saya cuma bisa bilang, “Terserah kamu Marianne. Just have good trip and enjoy it.” Yuk ah, sekarang saya mau liat-liat E-bay dulu nih, kayaknya banyak barang-barang menarik (untuk bayi) yang bisa saya beli di situ.
Melbourne , Nov 06
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.