Ada Pertemuan Ada Perpisahan
December 8, 2006 by indo-javanesegirl
Ihik…Ihik…akhirnya bobol juga tangisanku yang dari tadi aku tahan! Payah nih ibu hamil. Abis gimana engga sedih guru mengajiku yang baik hati itu –dan tentunya punya banyak ilmu –akhirnya benar-benar akan back for good ke
Indonesia karena tugas belajar suaminya udah selesai. Thanks loh friend karena selama ini udah berbaik hati mentransfer ilmu ‘akhirat’ kepadaku –murid yang hobi bertanya sampai sang guru pun harus buka-buka kitab lagi.
Hari Jumat kemaren emang kali hari ‘melankolis’ untukku. Bayangin aja, pagi-pagi udah harus berpisah –padahal cuma 3 hari –dengan hubby. Alhasil sebelum berangkat ngaji aku memilih bermanja-manja dengan hubby, malah sempet beberapa tetes air mata keluar (sorry baby, mommy cengeng hari itu mudah-2 an kamu enggak ikutan ‘bad mood’.
Di pengajian mingguan yang juga untuk acara farewell party beberapa anggotanya, seperti biasa setelah mengaji dan membahas beberapa masalah dilanjutkan dengan ‘buka-bukaan’ kesan dan pesan mereka yang mau balik ke Indonesia termasuk yang mau ditinggalin. Dan ketika tiba giliranku, wah…ternyata kok enakan menulis daripada ngomong –apalagi dalam suasana yang agak menyedihkan –seperti itu. Aku emang paling enggak tahan kalau menghadapi ‘perpisahan’ apapun itu bentuknya. Teman-teman yang lain malah menggoda, “Ayo dong ibu penulis kesan pesannya yang panjang.” Untung sang guru segera memotong,” Hmmm ibu penulis udah menuliskan kesan pesannya di blogku kok.”
Begitulah ada pertemuan biasanya akan diikuti oleh perpisahan. Tapi kami berharap perpisahan ini akan berlanjut dalam sebuah pertemuan lagi, entah kapan! Yang jelas ada mailing list yang terus ‘mengikat’ kami sehingga semuanya merasa terus bisa keep in touch di manapun berada. Satu yang pasti, forum pengajian siang itu gagal membahas isu ‘panas’ –seperti panasnya cuaca
Melbourne akhir-akhir ini yang selalu di atas 30 derajat C –apalagi kalau bukan poligami.
Aku tahu dalam forum itu pun ada ‘suara’ berbeda. Tentu saja masing-masing dengan berbagai alasannya. Yang bikin heboh saat itu ketika seorang teman sempet nyeletuk, “Ih takut juga ya, kalau tiba-tiba kita DI TEH NINIHKAN!” What a joke? Wah bisa-bisa muncul istilah (idiom) baru nih dalam kamus umum Bahasa Indonesia. Mungkin kalau saat itu kebanyakan ibu-ibu ogah membahas tema sensitif itu, lain halnya pada Senin (11/12) mendatang. Aku harap kuliah umum yang akan menghadirkan Prof Quraish Sihab di Monash Uni bisa sedikit ‘menyerempet’ tema menarik itu. Padahal sang prof mau membahas tentang kehidupan masyarakat muslim di negara Barat (sekuler).
Sementara itu teman-teman dari kelompok Indonesian Women’s Leadership Group pun punya niat kuat ingin membentuk organisasi yang betul-betul real membantu para wanita (migran) terutama dari Indonesia yang punya masalah di negeri Kangguru ini. Masalah yang dimaksud bisa berupa domestic violence (kekerasan dalam rumah tangga), masalah anak, finansial, kesehatan, yang semuanya bersifat advokasi (real) dengan bekerja sama dengan institusi lokal yang sudah lebih dulu mapan.
Bukan rahasia umum lagi kalau selama ini banyak perempuan migran yang kurang bisa menunjukkan sikap asertif mereka di negeri baru. Sedangkan organisasi yang ada saat ini seperti Dharma Wanita dan organisasi berbasis keagamaan pun kurang menyentuh (bersikap real) atas keluhan-2 maupun masalah yang terjadi pada wanita-wanita tersebut. Sepertinya tujuannya emang mulia, maka itu aku pun tertarik untuk bergabung setelah kita merampungkan serangkaian workshop yang diberikan pemerintah lokal (Council) secara GRATIS BO! Makanya para peserta workshop lantas berpikir, “Habis ini lantas apa yang bisa kita lakukan?”
Para suami pun kebetulan ikut mendukung, termasuk hubby, yang emang doyan (HOBI) ngasih advice (kayaknya tugasnya sebagai konsultan IT sering keterusan sampe di rumah, emang aku client-nya apa). Yah mudah-mudahan cita-cita itu terlaksana dan mendapat dukungan dari ibu-ibu yang lain. Hari gini gitu loh, kayaknya udah basi kalau kumpul-kumpul cuma membahas masakan, merawat diri dll (physically), hal-hal yang bisa diakses di internet (kalo mau).
Ya udah week end ini aku mau coba isi waktu mumpung jadi GADIS lagi dengan main game di rumah apalagi cuaca di luar lagi panas banget (37 C). Tapi gimana ya cara mainnya? Aku
kan bukan type orang yang suka main game. Kalau disuruh milih mending baca blog orang, nulis (ini sih engga usah disuruh) atau chatting. Emangnya seperti hubby yang bisa berjam-jam bahkan seharian betah di depan komputer main game (kayak anak kecil) kadang sambil teriak (apalagi kalo jagoannya kalah)! Bener-bener kita beda sifat dan karakter! Aku lebih suka bersosialiasi, sementara hubby juga suka bersosialisasi (tetapi di depan layar komputer).
Sering banget kalau akhir pekan kita engga ada acara keluar dia lebih milih main game kesenangannya. Padahal aku juga mau make komputer, biasa pekerjaan administratif sehari-hari sudah menunggu (ngecek e-mail, blog, chatting dan baca berita). Kalau udah gitu sebel banget bawannya, karena aku harus minta ama hubby agar dikasih waktu sebentar aja. Tapi dasar orang lagi demen, dia malah balik bertanya, “Kamu
kan udah puas tiap hari, kalau saya
kan cuma bisa week end doang.” Uh…dasar…pengila game…Untungnya sih kalo mau beli game (gadget) baru dia selalu bilang dulu sama istrinya, daripada nanti kena semprot! Tapi pernah juga sih beli game baru tanpa bilang, mungkin karena takut aku bakal engga kasih, padahal di suka banget game itu. Hi hi hi…kacian juga sih ya…uang uangnya dia, tapi
kan yang megang kunci bank BININYA loh!
Melbourne
, Dec 06
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.