Rasa Sayang Itu Masih (Terus) Ada
December 10, 2006 by indo-javanesegirl
Rasa Sayang Itu Masih (Terus)
Ada
Perasaan sayang konon dimiliki hampir setiap makhluk –termasuk hewan –di dunia. Meski konon pula rasa itu bisa muncul dan hilang sepanjang proses kehidupan ini berlangsung. Dan rasa ini pula yang bikin hidup manusia makin berwarna! Misalnya, mereka yang sedang tertusuk ‘panah
asmara ’ akan bilang hidup itu sangat indah dan serba menyenangkan, tiada hari tanpa rindu dengan sang pujaan hati. Sebaliknya mereka yang sedang menderita karena putus cinta akan bilang dunia seolah tak berpihak kepadanya, hidup sangat membosankan bahkan mungkin tak bergairah lagi melakoninya.
Itulah sekadar gambaran umum betapa ‘rasa sayang’ itu cukup dahsyat berpengaruh dalam kehidupan kita. Dan karena rasa sayang itu pula kita menjadi makhluk yang peka terhadap ‘eksistensi’ makhluk lain.
Ada yang bilang anugerah yang terindah bila kita disayangi banyak orang karena itu lebih baik punya banyak teman daripada musuh. Bisa dibilang, rasa sayang memang salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada makhluknya. Maka berbahagialah makhluk yang merasa ‘selalu’ diberi dan mendapat anugerah tersebut.
Ngomong-ngomong soal ‘rasa sayang’ ini memang tidak komplet rasanya bila tidak menyinggung hari Valentine yang diperingati banyak orang –terutama di negara-2 Barat- setiap tanggal 14 Februari tersebut. Setiap Valentine, pasangan –khususnya remaja –biasanya menjadikan moment ini untuk menunjukkan rasa sayang dan cinta mereka kepada orang yang dikasihi lewat simbol-simbol ‘tertentu’ yang dianggap bisa merefleksikan arti cinta itu sendiri. Simbol-simbol ‘ungkapan cinta’ yang lumrah dipakai di antaranya bunga Rose, coklat, boneka dan kartu-kartu ucapan bergambar hati yang romantis.
Sementara pendapat lain bilang, bahwa cinta itu sebenarnya juga bisa diungkapkan dalam berbagai cara.
Ada yang dengan kata-kata romantis lebih mengena. Sementara tindakan spontan seperti mengajak dinner di hari-hari istimewa pasangan, orangtua atau teman dan saudara juga bisa disebut sebagai wujud nyata dari rasa kasih sayang itu sendiri. Bahkan bhakti dan sikap hormat anak kepada orangtuanya pun bisa dibilang perwujudan dari rasa kasih sayang yang tak ternilai harganya. Begitu pula sebaliknya cinta kasih orangtua kepada anak-anaknya yang telah merawat sejak bayi adalah anugerah terbesar yang bisa kita rasakan sepanjang hidup ini. Kalau yang sudah berpasangan (menikah) mungkin saling memperhatikan kebutuhan fisik dan rohani adalah salah satu sarana untuk menunjukkan rasa sayang itu satu sama lain.
Dengan kata lain, rasa sayang itu –selain untuk pasangan tercinta –ternyata bisa berwujud rasa sayang kepada orangtua, kakak dan adik, saudara, serta teman dan sahabat meski dengan kadar yang berbeda. Yang jelas, betapa indahnya bila rasa sayang itu bisa diwujudkan kepada diri setiap orang. Seperti pepatah, kasih sayangilah orang lain seperti engkau menyayangi dirimu sendiri. Bila kredo idealis seperti ini bisa dijalankan, mungkin dampak universalnya dunia akan lebih ‘damai’ tidak seperti yang terjadi saat ini ketika konflik begitu mudahnya meledak di mana-mana.
Maka seperti halnya cerita yang melatarbelakangi kisah munculnya hari Valentine, tercatat di situ bahwa ada pengorbanan untuk memberi dan mendapat kasih sayang. Intinya, kadang kita pun meski berkorban walau hanya untuk mewujudkan kasih sayang yang ingin kita berikan untuk orang lain. Dan, seperti itulah kisah kehidupan, sering yang kita dapati serba ‘membingungkan’ atau tidak sesuai kehendak hati. Tapi belajar dari cerita yang dramatis tentang sejarah hari Valentine tersebut kita menjadi ‘mahfum’ dan maklum adanya bila kini mendapati ‘kadang’ betapa mahalnya rasa kasih sayang itu –setidaknya untuk beberapa orang yang sulit ‘tersentuh’ atau mungkin ‘disentuh’.
Saya tidak ingin banyak membahas soal kisah klasik percintaan sepasang muda mudi yang berakhir menyedihkan atau happy ending sekalipun. Berhubung belakangan ini topik ‘rasa sayang’ dalam perkawinan konon mudah memudar –bahkan sering berakhir dalam perpisahan — kembali mencuat di kalangan masyarakat, maka boleh ya saya ‘sindir’ sedikit tentang sifat dari rasa kasih sayang itu sendiri terkait pada kasus di atas.
Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih dan cinta kasih sesama, sayangnya tidak semua orang punya ‘kesadaran’ yang sama tentang ajaran yang mulia tersebut. Apalagi katanya cinta bisa pudar, begitu juga kasih sayang. Oleh karena itulah, sebagai orang yang merasa belum berpengalaman, saya rajin bertanya kepada mereka yang sudah lebih dulu makan asam garam kehidupan ini.
Misalnya, mengapa mereka bisa survive dalam mengarungi bahtera kehidupan yang penuh ombak dan badai ini? Jawab mereka, susah dijelaskan dalam kata-kata, tapi kalau kita ‘lulus’ menghadapi setiap cobaan yang datang menerjang, justru di situlah jawaban dari ‘ujian hidup’ yang sesungguhnya. Lantas saya tanya lagi, bagaimana untuk bisa ‘lulus’ dari ujian berat itu? “Pengalaman adalah guru yang terbaik! Maka itu belajarlah dari pengalaman apapun yang kamu dapat di dunia ini.”
Wah…agak sulit untuk dicerna ya. Menurut saya pun demikian. Jawaban dari pertanyaan saya lebih banyak bersifat ‘absurd’-nya. Tapi dari jawaban yang agak sumir itu saya mencoba menginterpretasikannya sesuai ‘pemikiran’ saya. Mungkin kira-kira maksud dari jawaban mereka yang sudah berpengalaman itu adalah, kasih sayang pun tak luput dari segala ujian dan cobaan. Karena itu jangan disia-siakan. Dan pupuklah terus selagi engkau bisa, niscaya rasa sayang itu tak
kan lari entah ke mana. Maka wahai insan yang sedang bercinta, berbahagialah jika saat ini kita masih dianugerahi rasa sayang itu dan dikelilingi orang-orang yang penuh kasih kepada kita!
Artikel Ozip edisi Februari 07
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.