Topi Saya Bundar
November 4, 2008 by indo-javanesegirl
“Topi saya bundar, bundar topi saya. Kalo tidak bundar, bukan topi saya.”
Mungkin sebagian besar temans masih ingat dengan penggalan lagu sederhana jaman kita kecil dulu. Yah…itu salah satu lagu anak-anak yang masih saya ingat selain beberapa lainnya. Entahlah tapi memang kebetulan topi kan sering menemani dan menjadi pelengkap dari gaya hidup kita semenjak dari kecil (bayi), anak-2 (topi menjadi bagian dari seragam sekolah/kegiatan out door), remaja (berkaitan dengan hobi) hingga dewasa dan tua pasti ada kalanya kita memakai topi untuk tujuan tertentu. Bahkan peci pun telah menjadi ‘trade mark’ bangsa kita.
Berkaitan dengan topi tadi saya sebenernya cuman ingin cerita tentang Spring Racing Carnival atau kegiatan tahunan balap kuda yang sudah menjadi ‘ajang bergengsi’ tidak saja untuk warga Melbourne tetapi juga Australia dan bahkan dunia. Acara ini berlangsung tiap minggu pertama di bulan November (saat musim semi/spring). Biasanya dimulai sejak Sabtu (1/11) disebut Derby Day dan berakhir pada Selasa (4/11) sebagai puncaknya dengan digelarnya ajang Melbourne Cup. Pokoknya benar-benar long week end deh untuk seluruh warga kota (walau ga semuanya sih seperti rumah sakit dan sebagainya). Selama 4 hari itu digelar terus pacuan kuda dalam beberapa kelompok dan criteria, yang puncaknya nanti pada hari keempat dengan berlangsungnya pacuan kuda kelas satu (paling hebat) dari berbagai penjuru negeri.
Lantas apa hubungannya topi dengan Melbourne Cup atau Spring Racing Carnival. Ternyata sangat erat sekali karena sesuai tradisinya sejak puluhan tahun lalu ketika kegiatan ini kali pertama digelar, penonton perempuan memang selalu berpenampilan menawan seperti mengenakan pakaian yang chic, terlihat modis dan menarik dari kaki hingga kepala. Biasanya mereka berpakaian dengan sentuhan adi busana (haute couture) dan tidak pernah lupa mengenakan topi. Bisa dibilang topi sangat identik dengan Melbourne Cup. Makannya ga jarang desainer kebanjiran order di waktu-2 menjelang Melbourne Cup digelar demikian juga mall-2 sebulan sebelumnya udah mulai mendandani dekorasi ruangannya dengan tema spring racing carnival (di mana-2 aneka model topi sudah dipajang memenuhi rak-2). Lalu para penonton yang laki-2 pun juga ga kalah kerennya. Mereka berpakaian ala gentlemen yang serasi dari bawah sampai atas (jas komplet gitu deh pokoknya).
Nah urusan topi ini memang paling menarik pandangan mata siapa saja termasuk awam karena biasanya cukup menyolok bentuk dan warnanya. Tak jarang mereka yang terlibat dalam spring carnival (tentunya para penonton) ingin menampilkan yang terbaik apalagi untuk mereka yang masih muda dan single, bukankah ini saatnya juga untuk ‘lirik-lirik’ lawan jenis? Karena memang moment-nya sangat memungkinkan. Dan yang merasa percaya diri serta berpenampilan menarik bisa ikut lomba/kontes ‘penonton berpenampilan terbaik’ yang hadiahnya ga kalah menggiurkan seperti tropi, uang tunai dan tiket pesawat dari sponsor utama kegiatan yang untuk 3 tahun terakhir ini kebetulan selalu dari sebuah maskapai penerbangan asing dari Middle East. Rupanya, selain untuk urusan bisnis (sponsorship) ternyata ada juga beberapa Emir yg khusus datang untuk melihat kudanya ikut lomba.
Tentu saja, mereka menitipkan kuda-2 kelas satu yang tegap dan kuat ini untuk dilatih oleh pelatih local (OZ) atau NZ. Biasanya kuda yang memenangi Melbourne Cup akan berharga ‘sangat mahal’ dan beberapa yang pernah berjaya berkali-2 akan dikenang dan tercatat sebagai legendaris. Peserta lomba juga datang dari negara lain seperti Jepang, Hong Kong, serta negara-2 Asia dan Timur Tengah lainnya. Kuda yang terkuat, tercepat dan terhebatlah yang akan menang dan dielu-elukan. Meski peran joki (penunggang kuda) dan faktor keberuntungan juga sangat menentukan.
Tapi bicara teori kadang tidak semudah yang ada di lapangan. Maksud saya, pasar taruhan (ini dikelola terang-2an dan professional dan menjadi salah satu ciri khas dari Melbourne Cup) kadang sulit ditebak maunya. Kadang kuda yang kurang terkenal justru dijagokan bakal menang dan karena itu banyak orang memasang taruhan pada kuda tersebut. Nah, karena terkait dengan ‘taruhan’ ini pula maka acara ini sangat ramai dan diekspos besar-2an. Sungguh hal yang menarik ketika melihat ekpresi para penonton (baik yang nantinya menang/kalah taruhan) saat mengikuti detik demi detik perjuangan para kuda dan joki mencapai garis finish yang pertama. Walau hanya menonton dari TV pun saya ikut terbawa emosi. Mungkin lebih tepat ‘ga tega’ melihat wajah keletihan kuda-2 perkasa tsb. Sementara pelatih, pemilik kuda tak kalah harunya ketika menyaksikan kuda kebanggaan mereka menang.
Yang jelas ajang dengan pasar taruhan beromset sampai jutaan dollar ini telah ‘menghidupkan’ kota Melbourne di awal November ini, bahkan sebelumnya. Dalam hal ini ada kaitan kuat antara olahraga dan ekonomi kota.Hubungan kuat seperti itu bukan hanya terbatas pada masalah bisnis tetapi juga menyangkut gaya hidup
Saya masih ingat dulu, ketika pertama kali melihat fenomena ini, orang datang berbondong-2 dari segala penjuru kota baik dengan mobil pribadi, kereta api dan tram dengan dandan habis-2 an untuk melihat Melbourne Cup di Flemington ini. Bahkan pemerintah menyediakan line khusus (kereta api) untuk mengangkut para penonton. Waktu itu saya masih tidak mengerti, kenapa orang-2 ini bela-2 in panas-2an dan berpakaian seperti itu hanya untuk melihat lomba pacuan kuda. Rupanya tradisi memang sulit dihapus selain memang sudah menjadi budaya masyarakat kota sejak puluhan tahun lalu yang ternyata justru makin menghidupkan sendi-2 perekonomian kota.
Dan memang Melbourne Cup sangat berbeda dengan lomba pacuan kuda sejenis. Ajang ini ibarat wadah para warga kota untuk bersosialisasi (mulai dari kalangan biasa-elit-petinggi-selebritis) tumpah ruah di Melbourne Cup. Tak jarang meski ada larangan dari polisi untuk membawa minuman beralkohol tetap saja banyak yang akhirnya pulang dalam kondisi mabuk. Banyak penonton yang datang berkelompok dan menggelar piknik –bawa wine/champagne dan makanan kecil –di taman sekitar ajang pacuan. Selama 4 hari itu semua orang terlihat bak peragawati dan peragawan sehari. Tentu saja bak gayung bersambut, ajang ini menjadi lahan rejeki untuk para retailers, pemilik toko busana, sepatu, tas, asesoris, para desainer dll.
Tidak hanya Melbourne Cup yang mendatangkan rejeki untuk banyak orang. Bagaikan siklus, dalam setahun udah banyak event tahunan yang menanti dan siap untuk disukseskan. Pemerintah (local terutama) sepertinya sangat paham dan jeli dengan peluang tersebut, maka hampir setiap musim/season sudah ada event yang siap ‘dijual’ untuk warganya (dan wisman) dan tentu saja mendatangkan income yang besar untuk khas mereka. Maka di bulan Januari ada Australian open (salah satu bagian dari Grand Slam) yang dihadiri petenis-2 tersohir dunia, sekitar awal Maret mecunguls para jagoan Formula 1 yang guanteng-2 dan super cepat itu, antara April-Juni musimnya rugby, menyusul Agustus yang dingin ada footy dengan jumlah supporter fanatic tak kalah banyaknya dengan rugby dan cricket yang berlangsung antara Sept-Okt. Di hampir semua event itu semua seperti dilibatkan, yang seperti efek domino menyebabkan roda ekonomi terus bergerak. Di luar soal penonton, merchandise yang dibeli para fans fanatic itu saja udah berapa juta dolar, belum termasuk tiket pertandingan, akomodasi, dll termasuk tentu saja televisi dan jaringan kabel yang ‘kecipratan’ oleh acara-2 berformat sport entertainment ini.
2 Responses to “Topi Saya Bundar”
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.



Asyiknya tinggal di Melbourne, banyak acara. Tentu dompetnya harus tebal, iya engga sih?
iya acara ada aja dan menarik, soal dompet relatif kok, kalo tgl tua ya di rumah saja, tapi byk yg gratisan juga mba…..jalan-2 ke taman dan liat pameran hi hi hi