Ketika Generasi Blogger Merambah Film
March 11, 2009 by indo-javanesegirl
Suatu hari di bulan Oktober 08, saya mendapat SMS dari temen jaman SMP di Jakarta, yang sekarang sudah jadi sineas kondang, siapa gerangan? Yup, dia tak lain sang sutradara berbakat Rudi Sujarwo. Rudi bilang mau merampungkan syuting film terbarunya Kambing Jantan di Adelaide dan Melbourne. Jadi, siapa tahu –karena ga bersua hampir 5 tahun –selain bisa bertemu untuk ngobrol-2 juga diskusi soal film, karier dan tentunya kehidupan pribadi Rudi yang kini telah menjadi ayah 2 orang anak yang nanti akan saya tuliskan detailnya di majalah Ozip ini.
Namun sayang beribu sayang, jadwal Rudi sangat padat selama 2 pekan di Australia. Syuting yang berpindah-pindah tempat dan acara yang banyak membuat kami sulit membikin janji. Akhirnya kami hanya bisa bertemu di udara (ponsel) dan tentu saja saya batal mewujudkan tulisan special tentang dia untuk Ozip tercinta.
Untungnya karena kebetulan tema Ozip bulan April ini tentang film, maka saya pun akan sedikit menuliskan tentang film terbaru garapan Rudi yang makin membuktikan bahwa cerita sehari-hari yang termuat di diary, buku dan blog –yang sekarang lagi zamannya –bisa menjadi sumber yang apik untuk diangkat ke layar lebar. Simak saja, Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi dan yang baru saja dirilis Kambing Jantan tersebut.
Fenomena yang bisa ditarik adalah, karya seni sastra masih menjadi sumber ide yang tak pernah surut untuk digali para sineas dalam menciptakan film yang bervariasi. Kalau dulu film-film cenderung terlihat datar dalam cerita, plot dan garapan secara keseluruhan, maka belakangan kita disuguhkan karya-2 sutradara muda yang lebih berbobot dari sudut cerita dan plot yang kuat. Meski diakui, karya-2 seperti ini memang banyak bersumber dari buku-2 laris kelas dunia.
Di Indonesia sendiri, sutradara muda yang mulai berkembang di jalurnya makin memperlihatkan siapa mereka. Dari Hanung Bramantyo, Dimas Jayadiningrat sampai Rudi, semuanya memiliki kemampuan dan ciri khas yang berbeda. Inilah salah satu asset insan film yang bisa dibanggakan saat ini setelah sekian lama sempat terombang-ambing dalam tahun-2 pancaroba. Mungkin generasi Usmar Ismail akan sedih kalau mengetahui masa pancaroba dunia film di Tanah Air. Untunglah semua itu segera berakhir, ketika Mira Lesmana dan Riri Riza menggebrak dunia film di Indonesia dengan karya-karya yang memukau dan fresh dalam ide.
Sejak itu kekuatan film Indonesia yang digerakkan insan muda mulai merambah ke kampus-2 dan kalangan yang lebih luas. Tak heran bila organisasi film independent begitu berkibar sejak awal tahun 2000 an di kota-kota besar di Tanah Air seperti Jakarta, Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, Makasar dsb-nya. Mengikuti kebangkitan film di Tanah Air adalah adanya JIFFEST (Jakarta International Film Festival).
Kaum intelektual muda penggagas acara ini sadar, film nasional engga akan bangkit tanpa dukungan pecinta film sejati dan tentunya workshop-workshop yang bikin para sineas dan penggemar film makin cerdas dan ber-nas ketika mencipta. Acara ini lumayan bersambut ketika berduyun-duyun orang datang untuk menyaksikan film-2 mancanegara yang berbeda kultur dan latar belakang plus cerita yang bervariasi.
Penonton puas dengan tontonan alternative berbobot dan murah tersebut (setidaknya untuk eksekutif muda Jakarta). Sementara kalangan pers ikut senang menyaksikan sesuatu yang ‘beda’. Kita belajar dari pengalaman orang/bangsa lain yang begitu kaya akan cerita. Dari sinilah kita makin sadar acara-2 festival memang terbukti berguna untuk meningkatkan kualitas perkembangan seni (apapun itu). Karena input dan diskusi yang terbangun pun menjadi lebih luas dan dalam.
Dari sini pula para sineas belajar dari rekannya untuk mengasah skill yang mereka punya plus mengetahui respon dari audience-nya. Film-2 yang tersaji pun makin bervariasi dan ‘dekat’ dengan penonton setianya tersebut. Sementara penonton pun makin kritis dengan unsur kualitas tontonan yang mereka lihat karena mereka pun makin pintar saja. Kita pun tahu, seiring maraknya dunia maya yang menawarkan program-2 menarik, ternyata berbuah manis pula untuk dunia seni film.
Sinergi antara cerita yang terbangun dalam blog –oleh penulis biasa pun –jika diolah menarik bisa menjadi karya luar biasa. Meski umumnya, cerita yang tersaji di blog itu sudah menjadi ‘trendsetter’. Dalam hal ini tentu saja sang sutradara dan produser engga mau gambling mengangkat cerita yang terlalu dangkal atau kurang peminatnya. Maka sisi komersial pun memang patut dipertimbangkan.
Sekarang mari kita kupas film Kambing Jantan karya Rudi tersebut. Terus terang waktu dengar soal ini (film Kambing Jantan) saya engga berpikir itu diangkat dari cerita nyata (buku karangan Raditya). Apalagi ketika mengetahui dari Rudi bahwa sang penulis pun akhirnya juga terpilih untuk memerankan dirinya sendiri. Maklum karena saya tinggal di sini, kurang mengikuti kalau buku tersebut juga salah satu best seller. Engga heran, waktu preview di Jakarta akhir Februari kemarin seorang teman menceritakan kepada saya bahwa fans Raditya ikut berdatangan.
Buku bacaan yang laris manis itu sendiri memuat cerita keseharian Raditya yang ditulis di blog-nya. Jadi cerita sehari-hari yang notabene adalah milik setiap orang di dunia di tangan Rudi ‘bisa dijual’ menjadi sebuah hiburan apik. Apa lagi ketika sang penulis pintar mengaduk aduk emosi pembaca, mengaku sebagai seorang pelajar bodoh tapi di sisi lain punya kepandaian dalam menulis dan piawai dalam mengolah (cinta) termasuk kisahnya menjalani LDR (Long Distance Relationships).
Yang pasti –seperti karya-2 Rudi lainnya –agar tidak hambar ada sisipan pesan ‘arti kehidupan’ yang dikemas dalam gaya humor. Buat penonton remaja (muda) mungkin cocok banget film ini ditonton sebagai sarana pembelajaran aduh kok serem banget ya istilahnya hi hi hi ketika harus berjuang belajar di negara asing plus mempertahankan cinta yang dipisahkan oleh jarakJ Seorang teman SMP yang kebetulan datang di acara preview film tersebut menceritakan kepada saya bahwa dia mendengar komentar seorang pembaca setia blog Raditya. “Pas banget nih film sama bukunya.” Benarkah demikian? Yuk, kita buktikan saja sama-sama. So, selamat menonton ya!
Ozip edisi April 09
Nuni B
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.